Nasihat yang Tak Pernah Hilang: 32 Tahun Lalu Seorang Sahabat Mengajarkan Arti Kemandirian

0

Oleh: Mahmud

Tiga puluh dua tahun telah berlalu. Namun ada sebuah nasihat dari seorang sahabat yang hingga hari ini masih melekat kuat dalam ingatan saya.

Nasihat itu saya terima ketika usia saya baru menginjak dua puluhan. Masa ketika seseorang sedang mengalami apa yang saya sebut sebagai pubertas intelektual—masa ketika idealisme tentang agama, kebangsaan, negara, keluarga, dan masa depan sedang tumbuh dengan begitu kuat.

Alhamdulillah, saya dilahirkan di negeri ini. Sebuah bangsa dan negara yang mungkin belum sepenuhnya ideal, tetapi terus berproses menuju keadaan yang lebih baik.

Pada usia itulah saya bertemu dan bersahabat dengan seorang keturunan Tionghoa. Saat itu saya belum terlalu memahami makna mendalam dari apa yang ia sampaikan.

Ia berkata kepada saya:

«“Kalau ingin sukses, mandirilah. Kalau ingin penghasilan berlipat, mandirilah. Kuasai satu skill, yaitu keahlian yang banyak dibutuhkan orang. Kalau sudah menguasai keahlian itu, kamu bisa menentukan dan menegosiasikan harga jasamu. Ketika usia 40 tahun, kamu sudah mandiri secara ekonomi.”»

Sederhana. Tidak panjang. Tetapi entah mengapa, kalimat itu menghujam ke dalam hati.

Ia kemudian melanjutkan nasihatnya.

“Jangan seperti kebanyakan orang. Masa mudanya pindah-pindah usaha, profesi, dan pekerjaan. Kemudian bangga bercerita kepada orang lain bahwa dirinya memiliki banyak pengalaman. Tetapi ketika memasuki usia 40 tahun, secara ekonomi belum juga mandiri.”

Menurutnya, banyak orang bukan tidak memiliki pengalaman. Namun justru terlalu banyak membuang waktu karena tidak pernah benar-benar menekuni satu bidang hingga menjadi keahlian yang bernilai.

Saat itu saya hanya mendengarkan.

Namun ternyata nasihat tersebut bekerja secara diam-diam di dalam pikiran saya.

Itulah yang saya sebut sebagai sisi mistis dari nasihat tersebut. Bukan mistis dalam pengertian klenik atau supranatural, melainkan karena sebuah kalimat sederhana yang disampaikan puluhan tahun lalu ternyata tetap hidup dalam ingatan dan terus menemukan relevansinya seiring perjalanan waktu.

Baca Juga  Hendra, Bocah Kampung Lereng Sumbing Masuk Grand Final Olimpiade Kurva Nusantara Bahasa Inggris Tingkat Nasional

Kini, setelah 32 tahun berlalu, saya semakin memahami maksud sahabat saya tersebut.

Ternyata membangun kehidupan tidak cukup hanya dengan idealisme.

Idealisme dalam beragama membutuhkan kemandirian. Berbakti kepada orang tua membutuhkan kemampuan untuk berdiri di atas kaki sendiri. Berkhidmat kepada keluarga membutuhkan fondasi ekonomi yang cukup. Bahkan keinginan untuk berkontribusi kepada masyarakat dan membangun peradaban bangsa juga membutuhkan sumber daya.

Karena itu, pertumbuhan ekonomi bukan semata-mata persoalan mengejar kekayaan pribadi.

Kemandirian ekonomi dapat menjadi salah satu fondasi untuk mewujudkan nilai-nilai yang lebih besar: beragama dengan lebih tenang, berbakti kepada orang tua, membangun keluarga, membantu sesama, dan berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Dari sinilah saya kemudian merumuskan kembali pesan sahabat saya dalam tiga kalimat sederhana:

Kuasai keahliannya.
Kuasai pasarnya.
Kuasai komunitasnya.

Pertama, kuasai keahlian.

Jangan sekadar mengetahui banyak hal di permukaan. Pilih satu bidang yang benar-benar ingin ditekuni. Pelajari, praktikkan, dan terus tingkatkan sampai keahlian itu memiliki nilai bagi orang lain.

Kedua, kuasai pasar.

Keahlian yang hebat tidak akan banyak berarti jika tidak ada yang membutuhkan. Karena itu, seseorang harus memahami kebutuhan masyarakat, persoalan yang mereka hadapi, serta bagaimana keahliannya dapat memberikan solusi.

Ketiga, bangun komunitas.

Tidak ada manusia yang benar-benar sukses sendirian. Keahlian membutuhkan jaringan. Pasar membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan tumbuh melalui hubungan yang baik dengan banyak orang.

Barangkali inilah makna sesungguhnya dari nasihat yang saya terima 32 tahun lalu.

Mandiri bukan berarti hidup sendirian.

Mandiri berarti memiliki kemampuan untuk menentukan arah hidup, memiliki keahlian yang bernilai, mampu memenuhi kebutuhan diri dan keluarga, serta mempunyai ruang yang lebih luas untuk memberikan manfaat kepada orang lain.

Baca Juga  Jebolan UGM, Agung Nugraha Resmi Jabat Dirut PLN Nusa Daya

Kini saya semakin percaya, idealisme tidak harus berhadapan dengan realitas ekonomi.

Justru idealisme membutuhkan fondasi ekonomi agar dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata.

Maka, kepada generasi muda, pesan yang masih saya ingat dari seorang sahabat 32 tahun lalu itu barangkali masih layak direnungkan:

Jangan takut menekuni satu keahlian. Jangan malu membangun dari bawah. Jangan terlalu cepat berpindah sebelum benar-benar menguasai bidang yang sedang ditekuni.

Sebab waktu tidak pernah kembali.

Dan pada akhirnya, bukan banyaknya pekerjaan yang pernah kita jalani yang menentukan nilai perjalanan hidup, melainkan seberapa dalam kita menguasai sesuatu dan seberapa besar manfaat yang mampu kita berikan kepada orang lain.

Kuasai skill-nya, kuasai pasarnya, bangun komunitasnya. Insyaallah, idealisme yang kita yakini akan lebih mungkin diwujudkan dalam kehidupan nyata.(Mahmud–Pantura Jateng)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *