Membuka Aktuil September 1974: Ketika Musik, Idola Remaja, dan Romantisme Sebuah Zaman Kembali Berbicara

0
IMG-20260902-WA0018

SUBANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika sebuah majalah tua kembali dibuka setelah puluhan tahun tersimpan. Aroma kertas yang menua, halaman yang mulai menguning, foto-foto hitam putih dan berwarna, hingga nama-nama yang dahulu begitu populer seakan membuka sebuah lorong waktu.

Itulah sensasi ketika Majalah Aktuil edisi September 1974 kembali dibaca pada September 2026.

Lebih dari setengah abad telah berlalu. Namun lembar demi lembar majalah tersebut ternyata masih menyimpan denyut kehidupan anak muda Indonesia pada zamannya. Bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang idola remaja, film, selebritas internasional, sastra, hingga perkembangan budaya populer dunia.

Aktuil pada masa itu bukan sekadar majalah hiburan. Ia merupakan salah satu jendela bagi generasi muda Indonesia untuk mengenal dunia yang ketika itu belum dapat diakses semudah sekarang.

Tidak ada internet. Tidak ada media sosial. Belum ada layanan streaming musik yang memungkinkan seseorang mendengarkan lagu dari belahan dunia lain hanya dalam hitungan detik.

Untuk mengetahui perkembangan musik, nama grup band terbaru, penyanyi yang sedang naik daun, atau kabar artis internasional, pembaca harus menunggu media cetak.

Dan salah satu media yang memiliki tempat khusus dalam sejarah musik Indonesia itu adalah Aktuil.

Aktuil, Jendela Anak Muda pada Era 1960-1970-an

Aktuil pertama kali terbit di Bandung pada 8 Juni 1967. Salah satu tokoh penting di balik kelahirannya adalah Denny Sabri Gandanegara, wartawan musik sekaligus pemandu bakat yang memiliki peran dalam perkembangan dunia hiburan dan musik di Bandung.

Dalam perjalanan panjangnya, sejumlah nama turut mewarnai Aktuil, antara lain Denny Sabri, Toto Rahardjo, Bob Avianto, Remy Sylado, Yoyo Dasriyo, Sonny Suriaatmadja, Maman S, Man H.S., Bens Leo, Odang Danaatmadja, dan Buyung Achmad Rizal.

Karakter Aktuil pun cukup khas.

Berita grup musik Indonesia dapat berdampingan dengan perkembangan musik Barat, profil penyanyi, kabar artis film, poster idola, tulisan sastra, hingga berbagai fenomena budaya populer.

Bagi anak band dan penggemar musik, Aktuil seperti sebuah jendela besar. Dari sana mereka dapat melihat apa yang sedang terjadi di panggung musik Indonesia sekaligus mengikuti perkembangan musik dunia.

Giant Step of Rhapsodia, Potret Kekuatan Musik Bandung

Salah satu bagian paling menarik dalam edisi September 1974 adalah sajian Giant Step of Rhapsodia.

Formasi tersebut mempertemukan sejumlah musisi penting yang memiliki hubungan erat dengan ekosistem musik Bandung pada era itu.

Terdapat Benny Soebardja sebagai vokalis dan gitar melodi, Deddy Dores pada organ, Yanto pada drum, serta Adhi “Si Anak Medan” pada bass.

Nama-nama tersebut bukan sekadar personel sebuah grup. Mereka merupakan bagian dari dinamika musik Indonesia yang sedang tumbuh.

Musisi pada masa itu dapat berpindah kelompok, membentuk formasi baru, berkolaborasi, dan mengeksplorasi warna musik yang berbeda.

Dari sinilah terlihat bagaimana Bandung berkembang sebagai salah satu pusat kreativitas musik pop dan rock Indonesia.

Membaca kembali nama-nama tersebut lebih dari lima dekade kemudian seperti menemukan kembali potongan-potongan puzzle sejarah musik nasional.

Poster David Cassidy dan Romantisme Menjadi Remaja

Di antara halaman Aktuil terselip poster David Cassidy, salah satu idola remaja internasional yang sangat populer pada era 1970-an.

David Bruce Cassidy lahir di Manhattan, New York, 12 April 1950. Ia dikenal sebagai penyanyi, penulis lagu, dan aktor. Popularitasnya melejit melalui musik dan televisi hingga menjadikannya ikon remaja dunia.

Baca Juga  Soal Pemblokiran Rekening Bank Mandiri AMPB, OJK Buka Suara

Pada masa itu, poster idola memiliki makna yang berbeda dengan sekarang.

Poster bukan sekadar gambar.

Ia bisa ditempel di dinding kamar, disimpan sebagai koleksi, atau dibawa untuk diperlihatkan kepada teman-teman sekolah.

Tidak ada Instagram untuk mengikuti kehidupan sang idola. Tidak ada YouTube untuk menyaksikan penampilan terbaru. Tidak ada TikTok untuk mengetahui lagu yang sedang viral.

Majalah menjadi salah satu jembatan antara penggemar dan tokoh yang mereka kagumi.

Di situlah romantisme menjadi remaja pada masa lalu terasa begitu kuat.

Fantastique Band dan Dinamika Musisi Indonesia

Aktuil edisi ini juga mencatat kiprah Fantastique Band, grup yang merilis album pop Melayu dan mendapat sambutan di pasaran.

Formasinya antara lain Deddy Dores sebagai vokalis dan gitar, B. Harijadhie pada bass, J. Sarwono pada organ, Janto Soejono pada drum, serta Albert Sumlang pada saksofon.

Catatan tersebut kembali menunjukkan betapa dinamisnya dunia musik Indonesia pada era 1970-an.

Personel dapat berpindah grup, membentuk kelompok baru, dan menciptakan warna musik yang berbeda.

Satu nama bahkan dapat muncul dalam sejumlah kelompok musik yang berbeda.

Jika jejak tersebut ditelusuri, akan terlihat jaringan panjang antarmusisi yang ikut membentuk sejarah musik pop dan rock Indonesia.

Yessy Gusman, Ketika Seorang Idola Masih Menjadi Remaja

Di halaman lain terdapat profil Yessy Gusman, bintang film remaja yang ketika itu tengah menanjak.

Dalam catatan pribadi yang dimuat Aktuil, tercantum nama lengkap Yasmine Yuliantina Gusman. Ia lahir di Jakarta pada 21 Juli 1962 dan saat profil tersebut ditulis masih berusia sangat muda.

Yang menarik justru adalah detail-detail kecil tentang dirinya.

Rambut panjang hingga sepunggung, belahan rambut agak ke kiri, tahi lalat di sebelah mata kiri, hingga kegemarannya mengenakan jeans.

Ia menyukai ice skating, bermain piano, dan menonton film.

Ia juga menyebut sejumlah bintang yang dikaguminya, seperti Rano Karno, Sukarno M. Noor, Lenny Marlina, Widyawaty, dan Mark Lester.

Cita-citanya ketika itu bahkan ingin menjadi dokter.

Membaca catatan tersebut lebih dari lima dekade kemudian menghadirkan perspektif yang menarik.

Sebelum menjadi bintang besar yang dikenal luas masyarakat, Yessy Gusman hanyalah seorang remaja dengan hobi, idola, dan cita-cita.

Kelak, namanya menjadi salah satu ikon film remaja Indonesia dan dikenal luas melalui berbagai film pada masanya.

Mengenang Fuad Hasan dan Soman Lubis

Aktuil edisi September 1974 juga mencatat sebuah peristiwa penting dalam perjalanan musik Indonesia, yakni pagelaran “Mengenang Fuad dan Soman” di Istora Senayan, Jakarta, pada 25 Agustus 1974.

Pagelaran tersebut diselenggarakan untuk mengenang dua musisi, Fuad Hasan dan Soman Lubis, yang meninggal dunia akibat kecelakaan.

Sejumlah grup musik papan atas tampil dalam acara tersebut, di antaranya God Bless dan Giant Step. Sementara AKA yang dimotori Ucok Harahap berhalangan hadir.

Giant Step tampil sebagai band pembuka dengan formasi Benny Soebardja, Deddy Dores, Yanto, dan Adhi “Si Anak Medan”.

Mereka membawakan lagu-lagu karya sendiri dan mendapat sambutan penonton.

Setelah itu, God Bless tampil mengenakan jubah hitam. Achmad Albar bersama personel God Bless tampil dalam suasana penuh penghormatan.

Noor Bersaudara turut membacakan sajak untuk mengenang Fuad dan Soman, kemudian mengumandangkan Gugur Bunga.

God Bless selanjutnya membawakan sejumlah lagu Barat yang diaransemen ulang dengan gaya mereka sendiri.

Pagelaran tersebut menjadi salah satu potret bagaimana musik, penghormatan, persahabatan, dan solidaritas antarmusisi bertemu dalam satu panggung.

Baca Juga  Sadis, 4 Oknum DC Diduga Culik Ibu Dan Anak

Dari Bandung ke Seattle: Jimi Hendrix dalam Lembar Aktuil

Aktuil tidak hanya mengajak pembacanya melihat panggung musik Indonesia.

Majalah ini juga membawa mereka menjelajah dunia.

Salah satunya melalui sosok Jimi Hendrix, gitaris legendaris yang meninggal dunia pada 18 September 1970.

Lahir di Seattle, Washington, Amerika Serikat, pada 27 November 1942 dengan nama James Marshall Hendrix, ia kemudian menjadi salah satu pemain gitar paling berpengaruh dalam sejarah musik rock.

Hendrix mengubah cara gitar listrik dimainkan dan dipandang.

Eksperimen terhadap suara, penggunaan efek, teknik permainan yang eksplosif, dan penampilan panggungnya menjadikan Hendrix simbol revolusi gitar listrik.

Menariknya, pada 1974, informasi mengenai musisi dunia seperti Hendrix masih harus dicari melalui media cetak.

Kini, tulisan itu justru menjadi artefak sejarah yang memperlihatkan bagaimana informasi musik global sampai kepada pembaca Indonesia pada masa tersebut.

John Lennon, Brigitte Bardot, dan Dunia Selebritas

Musik bukan satu-satunya isi Aktuil.

Kehidupan selebritas internasional juga menjadi bagian dari daya tariknya.

Salah satu berita yang menarik adalah pertemuan John Lennon dengan Brigitte Bardot di London.

Lennon telah menjadi bagian penting dari sejarah The Beatles, sedangkan Bardot merupakan aktris Prancis sekaligus ikon perfilman dan simbol kecantikan dunia pada zamannya.

Berita semacam ini memperlihatkan bahwa Aktuil sesungguhnya memiliki cakupan yang lebih luas.

Musik, film, selebritas, budaya populer, dan tren internasional hadir dalam satu majalah.

Bagi pembaca muda Indonesia pada 1970-an, halaman-halaman itu menjadi cara untuk mengenal dunia yang terasa begitu jauh.

Deep Throat dan Fenomena Budaya Populer

Aktuil juga mencatat fenomena budaya populer internasional yang kontroversial, salah satunya film dewasa Deep Throat yang dibintangi Linda Lovelace.

Pemberitaan mengenai fenomena tersebut menunjukkan bahwa Aktuil tidak hanya mencatat perkembangan musik, tetapi juga berbagai peristiwa budaya populer yang tengah menjadi pembicaraan dunia.

Hal itu sekaligus menggambarkan luasnya cakupan informasi yang ditawarkan majalah tersebut kepada pembacanya.

Emerson, Lake & Palmer dan Era Progressive Rock

Bagi penggemar progressive rock, nama Emerson, Lake & Palmer (ELP) tentu bukan nama asing.

Trio asal Inggris yang terdiri atas Keith Emerson, Greg Lake, dan Carl Palmer tersebut menjadi salah satu kekuatan besar musik progresif era 1970-an.

Permainan keyboard Keith Emerson, vokal dan gitar Greg Lake, serta permainan drum Carl Palmer menghasilkan karakter musik yang megah, kompleks, dan eksperimental.

ELP menjadi salah satu contoh bagaimana musik rock berkembang melampaui format lagu sederhana.

Musik menjadi ruang eksplorasi, tempat para musisi bereksperimen dengan struktur, bunyi, dan teknologi.

Shocking Blue dan Lagu yang Menolak Mati

Dari Belanda, Aktuil mengabarkan perjalanan Shocking Blue, grup yang mendunia melalui lagu Venus.

Pada 1974, grup tersebut diberitakan akan mengakhiri perjalanannya dan sebelum bubar merilis album This America.

Bagi penggemar musik kala itu, kabar berakhirnya perjalanan sebuah grup terkenal tentu merupakan berita penting.

Namun waktu justru menunjukkan sesuatu yang menarik.

Lebih dari lima dekade kemudian, Venus masih dikenal luas.

Lagu tersebut mampu menyeberangi generasi, melewati perubahan teknologi, dan tetap hidup jauh setelah kelompok yang membawakannya meninggalkan panggung.

Di situlah keajaiban musik bekerja.

Zaman berganti, tetapi lagu tertentu menolak untuk mati.

“Album Aktuil” dan Daftar Lagu yang Pernah Menjadi Idola

Baca Juga  Destry Damayanti, Pejabat Sementara Gubernur BI

Salah satu rubrik yang kini terasa menarik untuk dibaca kembali adalah “Album Aktuil”.

Untuk musik Indonesia, tercatat sejumlah judul seperti Bertemu Untuk Berpisah, Penyesalan, dan Tiga Jenaka dari AKA Band; Kehidupan, Kembalilah, dan Kenangan Lama dari The Gembells; serta Mengapa, Lupakan Saja, dan Si Lesung Pipit dari Bhara Quint.

Sementara dari musik Barat terdapat Band on the Run dari Paul McCartney & Wings, Mr. Natural dari Bee Gees, serta Red Dress dari Magnet.

Bagi pembaca masa kini, daftar tersebut mungkin tampak sederhana.

Tetapi pada 1974, informasi semacam itu memiliki arti besar.

Belum ada Spotify. Belum ada YouTube. Belum ada mesin pencari.

Untuk mengetahui lagu terbaru dan musisi yang sedang populer, pembaca harus mencari informasi melalui majalah, radio, toko kaset, atau bertanya kepada sesama penggemar musik.

Karena itu, sebuah daftar lagu di Aktuil pada dasarnya adalah peta kecil bagi anak muda untuk mengikuti perkembangan musik.

Ketika Musik Bertemu Sastra

Menariknya, Aktuil ternyata tidak berhenti pada musik dan selebritas.

Edisi September 1974 juga memuat karya sastra, antara lain cerita pendek “Bapendos” karya Remy Sylado dan “Pengumuman” karya Ashadi Siregar.

Kehadiran karya sastra di tengah berita musik memperlihatkan karakter Aktuil sebagai majalah anak muda dengan cakupan yang luas.

Musik, film, budaya populer, sastra, dan kehidupan sehari-hari bertemu dalam satu ruang.

Itulah yang membuat majalah lawas menjadi begitu berharga.

Ia bukan hanya mencatat satu bidang, tetapi merekam atmosfer masyarakat pada zamannya.

Membuka Majalah, Membuka Kembali Sebuah Zaman

Kini, ketika Aktuil edisi September 1974 kembali dibuka pada September 2026, yang tampak bukan sekadar tulisan lama, foto, poster, dan daftar lagu.

Di dalamnya tersimpan jejak sebuah zaman.

Ada musisi yang pernah menguasai panggung. Ada grup band yang pernah menjadi idola dan kemudian berubah menjadi bagian dari sejarah. Ada poster penyanyi yang mungkin dahulu ditempel di dinding kamar seorang remaja.

Ada pula bintang film yang ketika itu masih sangat muda, lengkap dengan hobi, idola, dan cita-citanya.

Di sisi lain, terdapat berita tentang musisi dan selebritas dunia yang dahulu terasa begitu jauh.

Majalah tua memang tidak dapat mengulang waktu.

Namun ia mampu menghadirkan kembali suasana yang pernah hidup.

Lembar demi lembar Aktuil seperti mengajak pembacanya duduk sejenak dan membayangkan bagaimana rasanya menjadi anak muda pada 1974—ketika musik pop dan rock Indonesia sedang tumbuh bergairah, Bandung menjadi salah satu pusat kreativitas, poster idola menjadi benda berharga, dan sebuah majalah menjadi jendela untuk mengenal dunia.

Mengoleksi serta membaca kembali majalah lawas akhirnya bukan sekadar menyimpan kertas tua.

Di dalamnya ada memori.

Ada cerita.

Ada nama-nama yang pernah berjaya.

Dan ada denyut kehidupan sebuah generasi.

Sebab majalah lama bukan hanya benda yang menua bersama waktu. Ia adalah arsip kehidupan yang setiap kali dibuka, mampu membuat masa lalu kembali berbicara.(Kin-Biro LTN Subang)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *