Kekeringan Parah Ancam Pertanian Grobogan, Ribuan Hektare Lahan Terancam Gagal Panen, Pemda Percepat Mitigasi

0
images (3)

LINTASTIDARNEWS.ID (GROBOGAN) – Musim kemarau yang semakin panjang mulai memberikan dampak serius terhadap sektor pertanian di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Sebagai salah satu lumbung pangan nasional, Grobogan kembali menghadapi ancaman kekeringan yang menyebabkan pasokan air irigasi menyusut, mengganggu aktivitas pertanian, hingga meningkatkan risiko gagal panen di sejumlah wilayah.

Sejumlah kecamatan seperti Geyer, Kradenan, Wirosari, Pulokulon, dan Gabus menjadi kawasan yang paling terdampak akibat menurunnya debit sumber air. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan masyarakat memperoleh air bersih, tetapi juga mengancam produktivitas tanaman padi dan palawija yang menjadi sumber penghasilan utama petani.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Grobogan menunjukkan distribusi bantuan air bersih telah dilakukan secara bertahap sejak akhir Juni hingga Juli 2026. Hingga pekan terakhir Juli, puluhan ribu liter air bersih telah disalurkan ke berbagai desa terdampak sebagai langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Grobogan, Wahyu Tri Darmawanto menyatakan pemerintah daerah terus memantau perkembangan wilayah yang mengalami kekeringan dan memastikan distribusi bantuan dilakukan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Kami terus melakukan pemantauan terhadap wilayah terdampak serta berkoordinasi dengan pemerintah desa dan instansi terkait agar pendistribusian bantuan air bersih dapat dilakukan secara cepat, tepat sasaran, dan sesuai kebutuhan masyarakat,” demikian keterangan resmi BPBD Kabupaten Grobogan.

Ribuan Petani Terancam Merugi

Kondisi kekeringan menjadi ancaman serius bagi petani, terutama yang mengandalkan sawah tadah hujan. Berkurangnya pasokan air menyebabkan tanaman mengalami stres, pertumbuhan terhambat, bahkan berpotensi puso apabila kemarau berlangsung lebih lama.

Selain penurunan hasil panen, petani juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk melakukan penyedotan air menggunakan pompa, membeli bahan bakar, hingga membuat sumur dangkal sebagai sumber irigasi alternatif. Kondisi tersebut meningkatkan biaya produksi sekaligus menekan keuntungan petani.

Baca Juga  Kementan Patok Harga Telur Ayam Ras Dari Peternak Rp 24 Ribu per Kg

Di sektor perkebunan rakyat, tanaman jagung, tebu, dan hortikultura juga mulai menunjukkan penurunan produktivitas akibat terbatasnya ketersediaan air selama fase pertumbuhan.

Pengamat pertanian menilai apabila kekeringan berlangsung hingga beberapa pekan ke depan tanpa curah hujan yang memadai, maka potensi kerugian ekonomi dapat meningkat signifikan karena berkurangnya produksi pangan, naiknya biaya produksi, hingga terganggunya pasokan komoditas ke pasar.

Mitigasi Pemerintah Dipercepat

Menghadapi ancaman tersebut, Pemerintah Kabupaten Grobogan mempercepat berbagai langkah mitigasi. Selain mendistribusikan bantuan air bersih secara rutin, pemerintah juga melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, koordinasi dengan pemerintah desa, serta membuka layanan pelaporan bagi masyarakat yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

Petani juga didorong untuk menerapkan pola tanam yang lebih adaptif terhadap musim kemarau, memanfaatkan pompanisasi pada daerah yang masih memiliki sumber air, serta mengoptimalkan embung dan jaringan irigasi yang tersedia.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian sebelumnya juga telah mendorong optimalisasi pompanisasi, pembangunan embung pertanian, percepatan rehabilitasi jaringan irigasi tersier, hingga penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap cekaman kekeringan sebagai bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan nasional.

Ancaman Perubahan Iklim

Fenomena kekeringan yang berulang setiap tahun dinilai menjadi indikator meningkatnya dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian Indonesia. Wilayah-wilayah sentra produksi pangan seperti Grobogan menjadi salah satu daerah yang paling rentan karena sebagian lahan masih bergantung pada curah hujan dan pasokan air permukaan.

Pemerintah daerah berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok tani, hingga masyarakat dapat memperkuat upaya adaptasi terhadap perubahan iklim sehingga produktivitas pertanian tetap terjaga meskipun menghadapi musim kemarau yang lebih panjang.

Dengan status Grobogan sebagai salah satu penyumbang produksi padi terbesar di Jawa Tengah, keberhasilan mitigasi kekeringan dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas produksi pangan sekaligus melindungi pendapatan ribuan petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *