Milad ke-107 TK ABA, Ratusan Anak KB-BA Al Muawwanah Ceria Berkarya dan Lestarikan Permainan Tradisional
MAGELANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Suasana penuh keceriaan dan kehangatan mewarnai peringatan Milad ke-107 TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) di KB-BA Al Muawwanah Japunan, Desa Danurejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Rabu (19/8/2026).
Sebanyak 208 anak mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas edukatif, kreatif, dan menyenangkan. Tidak sekadar seremoni, peringatan milad kali ini mengajak anak belajar melalui pengalaman langsung melalui eco pounding dan permainan tradisional.
Mengusung tema “Bersama Membangun Generasi Shalih, Cerdas, dan Berakhlak Mulia”, kegiatan tersebut melibatkan siswa, guru, Pimpinan Ranting Aisyiyah (PRA) Danurejo, serta orang tua/wali murid.
Rangkaian kegiatan diawali dengan upacara milad yang berlangsung khidmat. Ketua PRA Danurejo, Hj. Siti Asqolani, S.Pd., bertindak sebagai pembina upacara. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan pentingnya menanamkan nilai-nilai keislaman, kebaikan, kebersamaan, dan semangat Aisyiyah sejak usia dini.
Usai upacara, suasana berubah semakin meriah. Anak-anak, guru, orang tua, dan jajaran PRA bersama-sama mengikuti Senam Anak Indonesia Sehat. Gerakan yang ceria dan penuh semangat menciptakan suasana kebersamaan antara sekolah, keluarga, dan organisasi Aisyiyah.
Belajar Seni dan Mencintai Alam Lewat Eco Pounding
Setelah senam bersama, 208 anak dibagi dalam dua kelompok kegiatan sesuai jenjang usia.
Sebanyak 100 anak TK B mengikuti kegiatan eco pounding, yakni seni memindahkan bentuk dan warna alami daun ke permukaan kain dengan teknik dipukul menggunakan kayu.
Dengan penuh antusias, anak-anak memilih daun, menyusunnya di atas kain, kemudian memukulnya secara perlahan hingga menghasilkan motif dan warna alami. Ketukan kayu yang dilakukan bersama-sama membuat halaman sekolah semakin semarak.
Kegiatan tersebut tidak hanya mengasah kreativitas anak, tetapi juga mengenalkan mereka pada keindahan alam dan pemanfaatan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Sementara itu, 108 anak TK A dan Kelompok Bermain diajak mengenal berbagai permainan tradisional. Di antaranya jathilan mini, gamelan anak, hula hoop, dakon, engklek, ular naga panjang, yoyo, layang-layang, hingga permainan parasut.
Anak-anak tampak menikmati setiap permainan. Ada yang berlari mengejar layang-layang, bermain engklek, memainkan dakon, hingga bergandengan tangan membentuk permainan ular naga panjang.
Selain menghadirkan kegembiraan, permainan tradisional tersebut menjadi media pembelajaran untuk melatih motorik, keseimbangan, kreativitas, komunikasi, sportivitas, dan kerja sama.
Kepala BA Al Muawwanah, Lies Nurhayati, S.Pd.I., mengatakan peringatan Milad ke-107 TK ABA sengaja dikemas tidak hanya dalam bentuk kegiatan seremonial, tetapi juga pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.
“Milad kali ini kami ingin anak-anak tidak hanya merayakan, tetapi juga mengalami. Lewat eco pounding mereka belajar seni dan alam, lewat permainan tradisional mereka mengenal warisan budaya. Semua dikemas dalam suasana bermain agar nilai-nilainya masuk dengan bahagia,” katanya.
PRA Danurejo Apresiasi Kebersamaan
Ketua PRA Danurejo, Hj. Siti Asqolani, S.Pd., memberikan apresiasi terhadap rangkaian kegiatan Milad ke-107 TK ABA tersebut.
Menurutnya, kemeriahan kegiatan bukan semata-mata terlihat dari banyaknya peserta, tetapi juga dari keterlibatan berbagai unsur, mulai dari anak-anak, guru, orang tua, hingga organisasi Aisyiyah.
“Ini bukti bahwa pendidikan di Al Muawwanah tidak terpisah dari kehidupan bermasyarakat. Ketika orang tua ikut senam, ketika PRA hadir membimbing, anak-anak melihat bahwa belajar adalah bagian dari kebersamaan,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan orang tua dan masyarakat dalam pendidikan anak menjadi bagian penting dalam membangun karakter sejak usia dini.
Peringatan Milad ke-107 TK ABA di KB-BA Al Muawwanah akhirnya bukan hanya menjadi momentum mengenang perjalanan panjang pendidikan TK ABA, tetapi juga menjadi ruang untuk menanamkan karakter, kreativitas, kecintaan terhadap alam, serta penghargaan terhadap budaya bangsa.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, anak-anak justru diajak kembali bersentuhan dengan alam dan permainan tradisional. Pesan yang ingin ditanamkan sederhana namun kuat: anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang shalih, cerdas, berakhlak mulia, kreatif, sekaligus mencintai budaya dan lingkungan.

Perayaan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi dan inovasi dapat berjalan berdampingan dalam pendidikan anak usia dini—belajar tidak harus selalu berada di dalam kelas, karena halaman sekolah, alam, permainan, dan kebersamaan juga dapat menjadi ruang belajar yang penuh makna.
(Nurul Abadi)
