Merti Dusun Pluberan, Tradisi Syukur yang Rekatkan Kerukunan Warga
MAGELANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Ratusan warga Dusun Pluberan, Desa Sucen, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, menggelar tradisi Merti Dusun sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus upaya merawat kerukunan dan kebersamaan antarwarga.
Kegiatan yang digelar malam hari selepas salat Isya itu berlangsung meriah. Warga dari berbagai usia, mulai anak-anak, remaja hingga orang tua, tumplek blek mengikuti rangkaian acara dengan penuh suka cita.
Merti Dusun diawali dengan kirab mengelilingi kampung sejauh sekitar satu kilometer. Puluhan anak-anak berada di barisan terdepan sambil membawa obor dari bambu, disusul warga yang sebagian besar mengenakan pakaian adat Jawa.
Di tengah barisan kirab, dua gunungan berukuran besar dan empat tumpeng berukuran sedang turut diarak menuju balai dusun.
Dua gunungan tersebut memiliki isi berbeda. Satu gunungan berisi aneka sayuran dan buah-buahan hasil panen warga, sedangkan gunungan lainnya dipenuhi beragam jajanan anak-anak.
Sementara empat tumpeng berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk dan ingkung ayam. Seluruh hasil bumi dan makanan tersebut menjadi simbol rasa syukur warga atas berbagai rezeki dan keselamatan yang telah diterima selama setahun.
Sesampainya di balai dusun, gunungan dan tumpeng ditata berjajar di atas meja besar. Warga kemudian mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
Suasana semakin hangat ketika seluruh warga kemudian mengikuti dahar kembul, tradisi makan bersama dengan alas daun pisang. Tanpa membedakan usia maupun latar belakang, warga duduk bersama menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Kepala Dusun Pluberan, Muh Irfan, mengatakan Merti Dusun merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan nikmat, keselamatan, serta hasil panen yang diberikan Tuhan.
“Ini merupakan perwujudan rasa syukur kami atas limpahan nikmat yang diberikan Allah kepada masyarakat dan dusun kami,” kata Irfan.
Selain sebagai ungkapan syukur, lanjutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga kerukunan warga.
“Kegiatan ini baru kita lakukan dua tahun ini dan akan kita teruskan setiap tahun,” ujarnya.
Rangkaian Merti Dusun kemudian ditutup dengan tradisi rebutan isi dua gunungan. Warga dengan penuh antusias berebut berbagai hasil bumi dan jajanan yang ada di dalamnya. Dalam waktu hanya beberapa menit, isi kedua gunungan tersebut ludes dibawa warga.
Bagi masyarakat Pluberan, tradisi tersebut bukan sekadar kemeriahan tahunan. Di balik kirab, doa bersama, makan bersama, dan rebutan gunungan, tersimpan pesan penting tentang kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta kepedulian untuk menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Salah seorang warga, Sri Umbarsih, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Merti Dusun Pluberan, Tradisi Syukur yang Rekatkan Kerukunan Warga
MAGELANG — Ratusan warga Dusun Pluberan, Desa Sucen, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, menggelar tradisi Merti Dusun sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus upaya merawat kerukunan dan kebersamaan antarwarga.
Kegiatan yang digelar malam hari selepas salat Isya itu berlangsung meriah. Warga dari berbagai usia, mulai anak-anak, remaja hingga orang tua, tumplek blek mengikuti rangkaian acara dengan penuh suka cita.
Merti Dusun diawali dengan kirab mengelilingi kampung sejauh sekitar satu kilometer. Puluhan anak-anak berada di barisan terdepan sambil membawa obor dari bambu, disusul warga yang sebagian besar mengenakan pakaian adat Jawa.
Di tengah barisan kirab, dua gunungan berukuran besar dan empat tumpeng berukuran sedang turut diarak menuju balai dusun.
Dua gunungan tersebut memiliki isi berbeda. Satu gunungan berisi aneka sayuran dan buah-buahan hasil panen warga, sedangkan gunungan lainnya dipenuhi beragam jajanan anak-anak.
Sementara empat tumpeng berisi nasi lengkap dengan lauk-pauk dan ingkung ayam. Seluruh hasil bumi dan makanan tersebut menjadi simbol rasa syukur warga atas berbagai rezeki dan keselamatan yang telah diterima selama setahun.
Sesampainya di balai dusun, gunungan dan tumpeng ditata berjajar di atas meja besar. Warga kemudian mengikuti doa bersama yang dipimpin tokoh agama setempat sesuai agama dan keyakinan masing-masing.
Suasana semakin hangat ketika seluruh warga kemudian mengikuti dahar kembul, tradisi makan bersama dengan alas daun pisang. Tanpa membedakan usia maupun latar belakang, warga duduk bersama menikmati hidangan yang telah disiapkan.
Kepala Dusun Pluberan, Muh Irfan, mengatakan Merti Dusun merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan nikmat, keselamatan, serta hasil panen yang diberikan Tuhan.
“Ini merupakan perwujudan rasa syukur kami atas limpahan nikmat yang diberikan Allah kepada masyarakat dan dusun kami,” kata Irfan.
Selain sebagai ungkapan syukur, lanjutnya, kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk mempererat tali silaturahmi dan menjaga kerukunan warga.
“Kegiatan ini baru kita lakukan dua tahun ini dan akan kita teruskan setiap tahun,” ujarnya.
Rangkaian Merti Dusun kemudian ditutup dengan tradisi rebutan isi dua gunungan. Warga dengan penuh antusias berebut berbagai hasil bumi dan jajanan yang ada di dalamnya. Dalam waktu hanya beberapa menit, isi kedua gunungan tersebut ludes dibawa warga.
Bagi masyarakat Pluberan, tradisi tersebut bukan sekadar kemeriahan tahunan. Di balik kirab, doa bersama, makan bersama, dan rebutan gunungan, tersimpan pesan penting tentang kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta kepedulian untuk menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.
Salah seorang warga, Sri Umbarsih, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, Merti Dusun mampu menghadirkan suasana kebersamaan yang semakin mempererat hubungan antarwarga.
“Suasana warga tampak guyub. Semoga warga kami tetap rukun dan damai,” katanya.
Merti Dusun Pluberan pun menjadi gambaran bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat. Bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk memperkuat persaudaraan dan merawat kerukunan dari tingkat dusun., Merti Dusun mampu menghadirkan suasana kebersamaan yang semakin mempererat hubungan antarwarga.
“Suasana warga tampak guyub. Semoga warga kami tetap rukun dan damai,” katanya.
Merti Dusun Pluberan pun menjadi gambaran bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat penting di tengah kehidupan masyarakat. Bukan hanya untuk melestarikan budaya, tetapi juga menjadi ruang bersama untuk memperkuat persaudaraan dan merawat kerukunan dari tingkat dusun.(*)
