Fikri : Rasa Terpukul Berubah dengan Gelar Beruntun

0
IMG-20260813-WA0001

LINTASTIDARNEWS.ID (JAKARTA) Hasil minor pada Indonesia Open 2026 yang langsung tersingkir pada babak pertama menjadi pukulan bagi Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri.

Apalagi sepekan sebelumnya, Fajar/Fikri baru saja menjadi runner-up pada Singapore Open 2026 (Super 750) sehingga harapan juara menjadi target pada Indonesia Open yang berlevel lebih tinggi (Super 1000) saat tampil di rumah sendiri.

Kegagalan pada Indonesia Open dibalas Fajar/Fikri dengan dua gelar beruntun pada Japan Open 2026 (Super 750) dan China Open 2026 (Super 1000).

Gelar ini sekaligus memecah kebuntuan setelah ganda putra nomor satu dunia itu meraih runner-up pada Korea Open 2025, French Open 2025, Denmark Open 2025, Australian Open 2025, dan Singapore Open 2026.

Menariknya, Fajar/Fikri menang di Jepang dan China setelah menundukkan lawan yang sama yakni ganda putra nomor satu dunia, Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan).

“Terasa terpukul ada ya karena minggu sebelumnya di Singapura hasilnya tidak terlalu buruk jadi runner-up. Tapi hasil di Indonesia sangat buruk membuat saya terpukul secara pribadi,” kata Fikri kepada media, termasuk BolaSport.com di pelatnas Cipayung, Jakarta, Rabu (12/8/2026) dikutip Bola Sport.

“Saya berpikir dari kekalahan ini dan pecutan tersendiri. Tetapi, saya tidak mau tenggelam terlalu lama takut nanti susah untuk bangkit. Yang penting, berusaha dengan maksimal.”

Fikri mengatakan setelah sudah lama kerap menjadi runner-up, ada sejumlah perubahan yang dilakukan bersama Fajar.

“Pastinya perubahan main ada karena setelah pertandingan kami melihat video bersama pelatih dan partner dan ada tim analisis,” ucap Fikri.

“Jadi, kami diskusi juga dan sharing. Ternyata lebih jelas terlihat apa kelemahan kami. Setelah mengetahui, program latihan pelatih sudah mengetahui program yang tepat untuk saya dan A’Fajar.”

“Persiapan khusus tidak ada, sama seperti pertandingan sebelumnya. Persiapan khususnya lebih fokus ke diri sendiri sayanya saja. Mungkin A’Fajar melakukan hal yang sama.”

Meski sudah dua kali mengalahkan ganda putra nomor satu dunia, Kim Won-ho/Seo Seung-jae (Korea Selatan), Fikri tetap melihat persaingan tetap imbang.

Baca Juga  Kapolres Purbalingga Gelar Silaturahmi Kamtibmas dengan Keluarga Besar Putra Putri Polri

“Kemarin juga kami bukan menang mudah juga. Kemarin kami lebih siap saja dibandingkan pasangan Korea. Kondisi lapangan dan kondisi shuttlecock kami berdua nyaman. Jadi, ada faktor keberuntungan juga,” tutur Fikri.

“Hubungan kami di luar lapangan baik sekali. Beberapa waktu yang lalu kalau tidak salah di Singapura. Seo sempat datang ke kamar juga memberikan sesuatu. Memang sangat baik mereka berdua. Jadi, kami baik juga bersama mereka.”

“Dengan hasil selama setahun pastinya kami ada perubahan dari latihan, fokus, kesabarannya juga, mungkin dari hasil seumur hidup rezekinya di Jepang dan China.”

“Kami latihan ya latihan saja, cuma memang ada tambahan. Lebih ke tahu diri saja karena kami di final kalah terus.”

“Ya sudah, ini memang sudah rezeki saya sampai situ. Usaha sudah, ikhtiar sudah, berdoa juga sudah. Jadi, ya saya bilang ke Fajar. Ya sudah tidak apa-apa yang penting kami berusaha saja.”

Bagi Fikri, raihan dua gelar bersama Fajar bisa dibilang pencapaian terbaik.

“Ya karena selama karier saya ini terbaik saya saat berpasangan dengan A’ Fajar. Sebelumnya, saya belum pernah mendapat hasil sebaik ini. Pastinya kami selama pertandingan selalu berkomunikasi di lapangan,” tutur Fikri.

“Satu, bersama partner, dua dengan pelatih. Itu juga sangat berpengaruh untuk memberi support, tetap percaya diri, dan kami memikirkan strategi juga. Jadi kami saling tahu maunya partner seperti ini, saya seperti ini, lapangannya seperti apa, jadi kami harus komunikasi terus,” ujarnya.

Selain Fajar/Fikri, Leo Rolly Carnano/Daniel Marthin juga perlahan bangkit dengan menjuarai Thailand Open 2026 dan Taipei Open 2026.

Sementara itu, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin naik podium kampiun Australian Open 2025 dan runner-up Indonesia Open 2026.

Baca Juga  5 Pantai Hidden Gem di Jawa Timur yang Masih Sepi Wisatawan, Pemandangannya Bikin Enggan Pulang

“Dari sebelumnya juga sudah memang ada rasa persaingan saya bersama mas Bagas (Maulana), saya dan Daniel. Memang persaingan ganda putra sangat ketat selain melawan negara luar,” ujar Fikri.

“Persaingan dengan ganda Indonesia juga sudah berat. Itu menjadi motivasi untuk saya dan semuanya. Jadi, kami bersaing secara sehat. Ingin menjadi yang terbaik,” katanya.

Setelah Kejuaraan Dunia ada China Masters dan Asian Games yang semuanya merupakan turnamen besar.

“Pasti saya fokus ke Kejuaraan Dunia dulu karena untuk Asian Games belum ada info apa-apa. Idealnya 3 event besar jangan terlalu berdekatan karena sangat lelah untuk atletnya, apalagi kejuaraan dunia lawannya sulit semua,” aku Fikri.

“Kami di kamar berkomunikasi. Kalau ada hal lain. Beban ada. tetapi sering ditargetkan juara. Jadi, sudah terbiasa. Kalau menang-menang, kalah ya kalah. Sudah begitu saja,” ucap Fikri tersenyum. (rif)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *