Simbut, Jejak Warisan Leluhur yang Dihidupkan Kembali Ibu-Ibu PKK Karangampel

0
IMG-20260902-WA0011

MAGELANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Warisan budaya leluhur tidak selalu lahir dari kemewahan. Justru dari kesederhanaan, bahan-bahan yang tersedia di alam dan ketekunan tangan manusia, lahir pengetahuan tradisional yang memiliki nilai budaya tinggi.
Semangat untuk menghidupkan kembali warisan tersebut kini tumbuh di tengah ibu-ibu PKK Karangampel, Magelang. Melalui pelatihan batik dan Simbut yang digelar Senin (31/8/2026), mereka belajar menelusuri kembali teknik pewarnaan kain tradisional yang sarat nilai sejarah sekaligus memiliki potensi dikembangkan menjadi produk kreatif ramah lingkungan.

Sejak pagi hingga sore, para peserta tekun mengikuti setiap tahapan pelatihan. Pembelajaran dimulai dari batik tulis, batik lukis hingga batik cap. Dari proses tersebut, peserta dikenalkan pada teknik perintangan warna sekaligus diajak memahami Simbut sebagai bagian dari pengetahuan tekstil tradisional Nusantara.

Bagi para peserta, kegiatan tersebut bukan sekadar belajar menghasilkan kain bermotif indah. Lebih jauh, pelatihan menjadi ruang untuk mengenal kembali warisan leluhur yang selama ini mulai jarang disentuh, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui kreativitas berbasis potensi lokal.

Simbut, Teknik Sederhana Sarat Makna
Simbut dikenal sebagai salah satu bentuk teknik perintangan warna pada tekstil yang memiliki jejak dalam tradisi masyarakat Nusantara. Teknik sederhana semacam ini menjadi bagian dari pengetahuan masyarakat dalam menghias dan memberikan warna pada kain.

Pendekatannya relatif sederhana. Tidak selalu membutuhkan peralatan membatik modern seperti canting dan malam dalam prosesnya. Bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar juga dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses perintangan warna.

Dalam pelatihan tersebut, bahan seperti tepung ketan, gula Jawa, garam dan tawas diperkenalkan sebagai bagian dari bahan perintang warna.
Konsep sederhana dan pemanfaatan bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat inilah yang membuat Simbut menarik untuk dikenalkan kembali.

Baca Juga  Tembang Kenangan Ramaikan TKL Ecopark, Dorong Wisata Malam dan UMKM Kota Magelang

Selain memiliki nilai sejarah dan budaya, Simbut juga menawarkan karakter natural dan artistik. Kain yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi bagian dari fesyen maupun produk kerajinan dengan sentuhan kekinian tanpa harus kehilangan akar tradisinya.

Dari Alam Menjadi Karya Bernilai Ekonomi
Di tengah berkembangnya industri kreatif dan meningkatnya perhatian terhadap produk berkelanjutan, pengetahuan tradisional seperti Simbut memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.

Bahan-bahan sederhana yang selama ini mudah dijumpai di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi karya seni dan produk fesyen bernilai ekonomi. Konsep pemanfaatan bahan alami juga sejalan dengan semangat pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan.

Tak berhenti pada pelestarian budaya, Simbut juga dapat menjadi pintu masuk bagi pemberdayaan masyarakat. Keterampilan yang dikuasai ibu-ibu PKK berpotensi dikembangkan menjadi produk unggulan, baik untuk digunakan sendiri maupun dipasarkan kepada masyarakat luas.

Pelatihan tersebut diberikan secara bertahap oleh Agus Daryanto dari Gasebo (Gabungan Senam Borobudur). Materi diberikan secara rutin setiap Senin dan Rabu agar peserta memiliki kesempatan cukup untuk memahami sekaligus mempraktikkan setiap teknik yang dipelajari.

Feni, Peni, Mujiah dan Asrofi merupakan beberapa peserta yang terus mengikuti proses pembelajaran batik dan Simbut dengan penuh ketekunan.
Dalam prosesnya, Agus Daryanto didampingi Edy Gores. Keduanya konsisten berbagi pengetahuan dan keterampilan kepada para peserta dengan harapan lahir karya-karya berkualitas yang tidak hanya layak digunakan, tetapi juga mampu tampil dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.
Edy Gores mengaku bersyukur melihat perkembangan para peserta yang mulai menghasilkan karya.

“Saya sangat bersyukur, ibu-ibu sudah mulai membuahkan hasil, baik batik maupun Simbut. Insyaallah sampai bulan depan karya-karya ini sudah bisa dipajang dan dipamerkan,” ujarnya.

Baca Juga  Rayakan HUT Megawati Soekarnoputri, Vita Ervina Lakukan Tanam Pohon Hingga Bersih - Bersih Sungai

Pemilik Gores Arts Gallery di Dusun Trisip, RT 14/RW 07, Tampirwetan, Kecamatan Candimulyo, Kabupaten Magelang, tersebut berharap momentum Hari Batik Internasional dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil karya para peserta kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurutnya, pameran nantinya bukan semata-mata menjadi ajang memamerkan kain hasil pelatihan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut diharapkan menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa tradisi lama masih dapat hidup dan beradaptasi dengan zaman.

“Semoga pada Hari Batik Internasional nanti bisa diadakan pameran batik dan Simbut. Ini bukan hanya tentang membuat kain, tetapi bagaimana kita bersama-sama menghidupkan kembali warisan leluhur agar tidak hilang dan bisa dikenal generasi berikutnya,” pungkasnya.

Dari tangan-tangan ibu-ibu PKK Karangampel, sehelai kain bukan sekadar kain. Ia menjadi jejak masa lalu yang dirajut kembali untuk masa depan—menghubungkan kearifan leluhur, kepedulian terhadap lingkungan, kreativitas dan peluang ekonomi masyarakat.
Alternatif judul yang lebih kuat
Simbut Bangkit di Tangan Ibu-Ibu PKK Karangampel, Merawat Jejak Leluhur dengan Kain Ramah Lingkungan
Merajut Kembali Jejak Leluhur, Ibu-Ibu PKK Karangampel Hidupkan Tradisi Simbut
Dari Bahan Alam Menjadi Karya, Ibu-Ibu PKK Karangampel Bangkitkan Warisan Simbut

Simbut, Warisan Leluhur yang Tak Boleh Hilang: Ibu-Ibu PKK Karangampel Tekun Berkarya
Merawat Warisan, Menjaga Alam: Ibu-Ibu PKK Karangampel Hidupkan Kembali Simbut

Ketika Tangan Perempuan Merajut Sejarah: Simbut Kembali Bergeliat di Karangampel
Bukan Sekadar Kain, Simbut Menjadi Jalan Ibu-Ibu PKK Karangampel Menghidupkan Warisan Leluhur(*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *