Pelaku Penembakan Sekolah Thailand Diduga Belajar Gunakan Senjata dari Media Sosial, Polisi Ungkap Jejak Digital

0
pexels-karola-g-5202421

BANGKOK, LINTASTIDARNEWS.ID — Polisi Thailand mengungkap fakta baru dalam penyelidikan penembakan mematikan di sebuah sekolah di Nonthaburi, dekat Bangkok. Remaja berusia 14 tahun yang diduga menjadi pelaku disebut belajar menggunakan senjata api secara mandiri setelah terpapar berbagai konten kekerasan di media sosial.

Informasi tersebut disampaikan kepolisian Thailand saat penyelidikan terhadap rangkaian penembakan yang terjadi pada Jumat (7/8/2026). Insiden bermula dari rumah kakek dan nenek pelaku sebelum berlanjut ke Debsirin Nonthaburi School di Provinsi Nonthaburi.

Polisi menyebut penyelidikan awal menemukan adanya paparan konten kekerasan di internet yang diduga memengaruhi perilaku remaja tersebut. Selain itu, persoalan pendidikan, masalah keluarga, serta konflik dengan teman juga tengah didalami sebagai kemungkinan faktor yang berkaitan dengan aksi tersebut.

Pernah Bawa Pistol BB ke Sekolah

Sebelum tragedi terjadi, remaja tersebut ternyata sudah pernah menarik perhatian pihak sekolah karena membawa pistol jenis BB gun.

Senjata itu kemudian disita oleh guru. Polisi juga menemukan indikasi bahwa remaja tersebut memiliki ketertarikan terhadap senjata dan kekerasan sebelum akhirnya menggunakan senjata api dalam serangan yang menewaskan sejumlah orang.

Kepolisian masih menyelidiki bagaimana remaja tersebut memperoleh kemampuan menggunakan senjata api serta sejauh mana media sosial berperan dalam proses tersebut.

Gunakan Senjata Milik Kakeknya

Rangkaian penembakan terjadi setelah pelaku diduga menembak kakek dan neneknya di kediaman mereka. Setelah itu, ia membawa senjata api milik sang kakek ke sekolah.

Di sekolah, pelaku kemudian melepaskan tembakan ke arah siswa dan staf sekolah sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri. Polisi menyebut senjata tersebut digunakan untuk melepaskan sedikitnya 26 tembakan, sementara puluhan peluru lainnya ditemukan di lokasi.

Kronologi tersebut membuat penyelidikan tidak hanya berfokus pada motif pelaku, tetapi juga pada bagaimana seorang remaja dapat mengakses senjata api dan mempelajari penggunaannya.

Baca Juga  Perkuat Sinergi Jaga Kedaulatan Rupiah, Polri dan BI Musnahkan 466.535 Lembar Uang Rupiah Palsu

Korban Tewas Bertambah Menjadi Sembilan

Jumlah korban meninggal dalam tragedi tersebut kemudian bertambah. Polisi Thailand pada Sabtu (8/8) mengonfirmasi seorang siswi berusia 12 tahun meninggal dunia setelah sebelumnya mengalami luka dalam penembakan.

Dengan tambahan tersebut, total korban tewas mencapai sembilan orang, termasuk dua kakek-nenek pelaku dan pelaku sendiri. Puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.

Sebelumnya, laporan kepolisian menyebut 23 orang mengalami luka dalam rangkaian penembakan tersebut, dengan sejumlah korban berada dalam kondisi kritis.

Thailand Kembali Soroti Akses Senjata Api

Kasus ini kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kepemilikan dan akses senjata api di Thailand.

Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menyatakan pemerintah akan memperketat pengawasan serta mendorong langkah baru terkait regulasi senjata api setelah tragedi tersebut.

Insiden di Nonthaburi juga menjadi penembakan massal paling mematikan di Thailand dalam hampir empat tahun dan menjadi salah satu kasus kekerasan bersenjata yang kembali melibatkan anak di bawah umur.

Bagi aparat Thailand, pengungkapan jejak digital pelaku menjadi bagian penting dalam penyidikan. Namun, polisi masih perlu memastikan apakah paparan konten kekerasan di media sosial benar-benar menjadi faktor utama atau hanya salah satu dari sejumlah persoalan yang melatarbelakangi aksi tersebut.

Kasus ini sekaligus kembali memunculkan pertanyaan tentang pengawasan terhadap konten kekerasan di internet, keamanan sekolah, serta akses anak dan remaja terhadap senjata api. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *