Kabar Baik Bagi Pengguna Pertamax dan Dexlite di Kalsel
LINTASTIDARNEWS.ID (BANJARMASIN) Memasuki pertengahan bulan Juli 2026, harga bahan bakar minyak (BBM) tidak ada perubahan di seluruh SPBU Indonesia pada hari ini, Rabu (15/7/2026).
Penyesuaian terakhir dilakukan pada 1 Juli 2026 dengan menurunkan harga tiga jenis BBM nonsubsidi, yakni Pertamax Turbo, Pertamina Dex dan Dexlite.
Ini tentunya jadi kabar baik bagi pengguna ketiga jenis BBM tersebut.
Dexlite dibanderol Rp 19.700,- per liter dari sebelumnya Rp 23.000,-. Sementara Pertamina Dex kini dijual Rp 21.150,- per liter dari sebelumnya Rp 24.800,-.
Sementara harga Pertamax yang melonjak drastis pada 10 Juni 2026 lalu belum ada penurunan harga hingga hari ini.
Pada 10 Juni 2026, harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax di Kalimantan Selatan (Kalsel) mengalami kenaikan jadi Rp 17.000,- per liter dari harga sebelumnya, Rp 12.900,-.
Untuk BBM penugasan seperti Pertalite berada di angka Rp 10.000,- per liter, dan Bio Solar Subsidi di Rp 6.800,- per liter.
Rincian harga BBM di wilayah Kalsel per 10 Juni 2026 :
Pertamax : Rp 17.000,-/liter
Pertamax Turbo : Rp 21.650,-/liter
Pertalite : Rp 10.000,-/liter
Bio Solar Subsidi : Rp 6.800,-/liter
Ada pun harga BBM sehari sebelumnya atau 9 Juni 2026 di Kalsel, adalah
Pertamax : Rp 12.900,-, Pertamax Turbo : Rp 21.650,- dan Pertamina Dex : Rp 25.900,-.
Dexlite : Rp 24.000,-, Pertalite : Rp 10.000,- dan Biosolar : Rp 6.800,-.
Hingga saat ini belum ada penurunan harga Pertamax di seluruh Indonesia.
Kecuali untuk BBM subsidi jenis Pertalite dan Biosolar yang dipatok sama di seluruh Indonesia.
Harga Pertalite adalah Rp 10.000,- per liter sedangkan Biosolar Rp 6.800,- per liter.
Penyebab Pertamax Belum Turun
Ekonom Universitas Padjadjaran (Unpad), Yayan Satyakti menjelaskan berdasar model penghitungan yang dikembangkannya, menunjukkan keputusan mempertahankan harga Pertamax pada level Rp 16.250,- per liter sudah dapat diperkirakan.
Menurut dia, kebijakan tersebut jadi bagian dari strategi penghalusan harga atau price smoothing yang selama ini diterapkan Pertamina.
“Ketika Pertamax dinaikkan menjadi Rp 16.250,- pada Juni lalu, harga tersebut sebenarnya masih berada di bawah harga yang disiratkan formula karena harga produk BBM dunia saat itu sedang sangat tinggi,” katanya.
“Pertamina menyerap kerugian ketika itu, sehingga saat harga minyak turun, margin tersebut dipulihkan dengan menahan harga Pertamax, bukan langsung menurunkannya,” imbuh Yayan kepada wartawan, Jumat (3/7/2026).
Yayan menjelaskan, harga BBM nonsubsidi tidak semata-mata mengikuti pergerakan harga minyak mentah dunia.
Berdasar model yang mengacu pada formula penetapan harga pemerintah dan perilaku Pertamina sebagai penentu harga, Pertamax diperkirakan memang akan tetap dipertahankan.
Untuk Agustus, dia menjelaskan formula dasar mengarah pada harga sekitar Rp 13.700,- per liter, tetapi pendekatan smoothing memperkirakan harga berada di kisaran Rp 16.000- per liter atau tidak jauh berbeda dengan harga sekarang.
Menurut Yayan, jika Pertamax langsung diturunkan mengikuti formula, manfaat utamanya adalah penurunan inflasi sekitar 0,4 poin persentase dalam tiga bulan.
Sebaliknya, jika harga dipertahankan, manfaat penurunan harga minyak dunia lebih banyak digunakan untuk memperbaiki margin.
Pertamina, sementara beban subsidi pemerintah terhadap Pertalite dan Solar tetap menjadi komponen terbesar dalam anggaran.
“Jika Pertamax dipangkas ke formula, estimasi pass-through kami menyiratkan sekitar−0,4 poin persentase dari inflasi selama tiga bulan (pelonggaran tahunan dari 3,34 persen menuju sekitar 2,9 persen); jika ditahan, dampaknya nihil dan seluruh penurunan minyak mengalir ke anggaran dan ke pemulihan margin Pertamina,” jelas dia. (rif)
