Kab. Bandung Dibayang-Bayangi Potensi Banjir Bandang dan Longsor, Meski Musim Kemarau

0
IMG-20260829-WA0056

LINTASTIDARNEWS.ID (BANDUNG) Ancaman potensi longsor dan banjir bandang tetap perlu diwaspadai masyarakat Kabupaten Bandung, Jawa Barat, meski saat ini masih berada pada periode musim kemarau.

Terlebih, hal tersebut dikarenakan sejumlah wilayah di Kabupaten Bandung memiliki kondisi geografis berupa perbukitan dan lereng yang masuk dalam kategori rawan pergerakan tanah.

Analis Kebencanaan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Bandung, Ridwan Maulana mengatakan, pihaknya terus mensosialisasikan potensi bencana tersebut kepada masyarakat.

“Surat edaran untuk memelihara kewaspadaan masyarakat akan risiko bencana kami sebarkan setiap bulan,” ujarnya, dikutip Tribun, Sabtu (29/8/2026).

Selain mensosialisasikan informasi itu, BPBD Kabupaten Bandung juga berkoordinasi dengan sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) dan aparatur kewilayahan untuk melakukan upaya mitigasi.

“Kami melaksanakan mitigasi nonstruktural. Sementara itu, OPD teknis seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, Disperkimtan, serta aparatur kewilayahan melaksanakan mitigasi struktural,” katanya.

Ridwan mengatakan, kewaspadaan tersebut perlu ditingkatkan terutama ketika hujan mulai kembali. Pasalnya, kondisi tanah dan lingkungan setelah kemarau dapat meningkatkan risiko terjadinya bencana.

Berdasarkan Peta Potensi Gerakan Tanah Kabupaten Bandung Agustus 2026 yang dirilis PVMBG, terdapat sejumlah kecamatan yang memiliki potensi bencana longsor kategori menengah hingga tinggi.

Wilayah itu meliputi Arjasari, Baleendah, Banjaran, Cicalengka, Cikancung, Cilengkrang, Cimaung, Cimenyan, Ibun, Ciwidey, Kertasari, Kutawaringin, Pangalengan, Paseh, Pasirjambu, dan Rancabali.

“Pada beberapa wilayah, berdasarkan peta dari PVMBG tersebut juga, turut terdapat banjir bandang. Wilayah-wilayah itu, seperti Arjasari, Banjaran, Ciwidey, Ibun, Kertasari, Pasirjambu, Rancabali,” ucapnya.

Diketahui, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Bandung, Suaidi Ahadi mengimbau kepada masyarakat di Jawa Barat agar mewaspadai potensi longsor dan banjir bandang.

Suaidi menjelaskan, kondisi lahan setelah kemarau menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap air, setelah musim kemarau.

Baca Juga  Ratusan Veteran di Magelang Peringati HUT ke-69 LVRI dengan Tabur Bunga dan Tasyakuran Penuh Khidmat

“Potensi itu bisa saja terjadi, karena memang daya ikatnya sudah lemah. Banjir dan banjir bandang itu berbeda. Banjir bandang itu membawa material-material yang besar, sehingga bisa menghancurkan,” katanya.

Oleh karena itu, Suaidi mendorong pemerintah daerah di Jawa Barat agar bisa melakukan mitigasi dengan memperhatikan iklim yang saat ini terjadi musim kemarau panjang.

“Apabila ada hujan sedikit pun atau cuaca ekstrem tiba-tiba yang curah hujannya di atas 50 mm itu yang perlu diperhatikan adalah daerah rawan longsor. masyarakat harus diedukasi sehingga menjadi cerdas terhadap bencana,” ujarnya.

“Di sinilah peran pemerintah daerah harus mengenalkan potensi-potensi ancaman ke masyarakat, bukan menakut-nakuti, tapi mengenalkan potensinya sehingga masyarakat lebih cerdas,” katanya. (rif)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *