Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17: Saat Kearifan Lokal Bicara tentang Masa Depan Alam

0
IMG-20260810-WA0019

SUMEDANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Tradisi dan kepedulian terhadap lingkungan berpadu dalam Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17 yang digelar Barésan Incu Putu Pangauban Citarum di Balé Sawala Cibulakan, Dusun Cibulakan, RT 03/RW 10, Desa Sindanggalih, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Sabtu (8/8/2026).

Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi untuk menengok kembali perjalanan selama setahun sekaligus mengevaluasi berbagai upaya pelestarian lingkungan yang telah dilakukan. Tradisi yang diwariskan lintas generasi itu juga menjadi ruang perjumpaan antar-inçu putu untuk memperkuat komitmen menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

 

Ketua Panitia Pelaksana Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17, Anton Rahardjo, mengatakan kegiatan tersebut memiliki makna penting sebagai momentum evaluasi tahunan. Dalam tradisi Pangauban Citarum, Hajat Balaréa dapat dimaknai sebagai ruang untuk melihat kembali apa yang telah dikerjakan sekaligus menentukan langkah ke depan.

 

“Hajat Balaréa itu adalah evaluasi tahunan, atau biasa kami sebut dengan seren taun. Setelah satu tahun kita melakukan dan mengerjakan apa, kita evaluasi pada hari ini,” ujar Anton.

 

Rangkaian kegiatan diawali dengan pertemuan para incu putu dari sejumlah pangauban. Kebersamaan kemudian dilanjutkan dengan kegiatan camping dan penyalaan api unggun pada malam hari sebagai bagian dari rangkaian tradisi.

 

Memasuki pagi hari, kegiatan berlanjut dengan diskusi yang menghadirkan sejumlah akademisi dari lingkungan sekitar. Salah satu bahasan utama adalah kajian sekaligus upaya memberikan legitimasi terhadap konsep Patanjala dalam perspektif ilmu pengetahuan.

 

Pendamping kegiatan laku Patanjala, Rahmat Leuweung, menjelaskan bahwa pembahasan Patanjala merujuk pada sejumlah sumber tertulis yang digunakan untuk memahami keterkaitan antara manusia, air, dan lingkungan.

 

Menurutnya, air memiliki posisi fundamental dalam memahami kehidupan. Sementara Patanjala dipandang sebagai alat atau metodologi untuk membaca hubungan tersebut secara lebih utuh.

Baca Juga  Polres Boyolali Gelar Apel Pengamanan Tasyakuran PSHT

 

“Yang pertama adalah bagaimana manusia paham dengan kondisi alamnya. Yang kedua, manusia memahami tentang keserasian alam atau karisan. Dan terakhir adalah bagaimana Patanjala sebagai pasang-pasungai menjadi norma dalam kehidupan masyarakat,” kata Rahmat.

 

Ia menjelaskan, konsep tersebut tidak semata-mata memandang air sebagai unsur lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari sistem kehidupan yang memiliki keterkaitan dengan manusia, alam, serta nilai dan norma yang berkembang di masyarakat.

 

Karena itu, pemahaman terhadap air dan lingkungan tidak cukup berhenti pada persoalan teknis pengelolaan sumber daya alam. Dibutuhkan pula kesadaran mengenai hubungan timbal balik antara manusia dan alam agar kehidupan dapat berlangsung secara selaras.

 

Hajat Balaréa Pangauban Citarum ke-17 akhirnya menjadi pertemuan antara tradisi, pengetahuan, dan kepedulian ekologis. Kearifan lokal tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali sebagai sumber refleksi untuk menjawab tantangan lingkungan masa kini.

 

Di tengah berbagai persoalan ekologis yang mengancam keberlangsungan sumber air dan ekosistem Citarum, pesan yang dibawa Pangauban Citarum menjadi semakin relevan: menjaga alam bukan sekadar kewajiban, melainkan bagian dari cara manusia menjaga keberlangsungan hidupnya sendiri.(Kin S/Sbg))

Editor. :  Redaksi

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *