China Sulap Gurun Gobi Jadi Pusat Energi Hijau, Pembangkit Listrik Surya Raksasa Mampu Pasok Jutaan Rumah
LINTASTIDARNEWS.ID (BEIJING) – China terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pemimpin energi terbarukan dunia melalui pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berskala raksasa di kawasan Gurun Gobi. Wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai hamparan tandus itu kini berubah menjadi salah satu pusat produksi listrik tenaga surya terbesar di dunia.
Pemerintah China memanfaatkan intensitas sinar matahari yang tinggi serta luas lahan yang sangat besar di Gurun Gobi untuk mengembangkan proyek-proyek energi bersih. Sejumlah fasilitas PLTS dengan kapasitas gigawatt telah dibangun di wilayah Xinjiang, Gansu, hingga Mongolia Dalam.
Salah satu proyek terbesar berada di dekat Kota Urumqi, Xinjiang
Pembangkit tersebut memiliki kapasitas mencapai 3,5 gigawatt (GW) dan mulai terhubung dengan jaringan listrik nasional pada Juni 2024. Fasilitas ini dibangun di atas lahan seluas sekitar 13.300 hektare dan diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 6,09 miliar kilowatt-jam (kWh) listrik setiap tahun.
Menurut laporan Reuters, kapasitas tersebut menjadikannya sebagai pembangkit listrik tenaga surya terbesar di dunia yang beroperasi dalam satu lokasi. Energi yang dihasilkan cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik jutaan rumah tangga selama setahun.
Proyek tersebut dikembangkan oleh perusahaan milik negara, China Green Development Group (CGDG), dengan investasi mencapai sekitar US$2,13 miliar. Kompleks PLTS itu menggunakan lebih dari 5,26 juta panel surya monokristalin bifacial berdaya 650 watt serta didukung jaringan transmisi sepanjang lebih dari 208 kilometer.
Selain proyek di Xinjiang, China juga membangun kawasan energi terpadu di Gurun Kubuqi, Mongolia Dalam. Proyek yang dikerjakan oleh China Three Gorges Corporation bersama Inner Mongolia Energy Group tersebut dirancang memiliki kapasitas total 16 GW, yang terdiri atas 8 GW tenaga surya, 4 GW tenaga angin, serta 4 GW pembangkit berteknologi efisiensi tinggi. Nilai investasinya diperkirakan mencapai lebih dari 80 miliar yuan.
Berdasarkan data Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional China (NDRC), ketika seluruh proyek selesai, kawasan tersebut diperkirakan mampu menyalurkan sekitar 40 miliar kWh listrik per tahun ke wilayah Beijing-Tianjin-Hebei. Produksi energi bersih itu setara dengan penghematan sekitar 6 juta ton batu bara standar serta mengurangi emisi karbon dioksida hingga 16 juta ton setiap tahun.
Sementara itu, proyek Mengxi Blue Ocean Photovoltaic Power Station di Ordos, Mongolia Dalam, yang dibangun di atas bekas area pertambangan batu bara, memiliki kapasitas 3 GW dengan lebih dari 5,9 juta panel surya. Pembangkit ini diproyeksikan menghasilkan sekitar 5,7 miliar kWh listrik per tahun atau cukup untuk melayani kebutuhan sekitar dua juta rumah tangga.
Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga mencatat perkembangan pesat pemanfaatan energi surya di Gurun Gobi. Melalui citra satelit, NASA menunjukkan bahwa kawasan yang sebelumnya didominasi lahan kosong kini dipenuhi hamparan panel surya yang terus meluas sejak proyek pertama dibangun pada 2009.
Pembangunan masif di kawasan gurun tersebut merupakan bagian dari target jangka panjang China untuk mempercepat transisi energi dan mencapai netralitas karbon pada 2060. Sejumlah proyek baru dengan kapasitas ratusan gigawatt masih terus dikembangkan di wilayah gurun dan daerah kering lainnya.
Dengan memanfaatkan kawasan yang sebelumnya tidak produktif, China menunjukkan bagaimana gurun dapat disulap menjadi sumber energi bersih berskala besar yang menopang kebutuhan listrik nasional sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi karbon global. (*)
