Remy Sylado Kembali Hadir di Bandung, Jejak Sang Maestro Diabadikan dalam “Remy Sylado & Dua Brouwer”
BANDUNG, LINTASTIDARNEWS.ID — Nama Remy Sylado kembali menjadi perbincangan di Kota Bandung. Bukan karena panggung pertunjukan, karya baru, atau penampilannya, melainkan karena kenangan dan jejak pemikiran seorang maestro yang telah berpulang.
Suasana hangat, akrab, dan penuh nostalgia terasa di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Bandung, Minggu (6/9/2026). Sahabat, seniman, budayawan, jurnalis, keluarga, mahasiswa, hingga pencinta karya Remy Sylado berkumpul untuk mengenang sekaligus menelusuri kembali perjalanan panjang sang maestro dalam jagat kebudayaan Indonesia.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi ruang pengenalan buku Remy Sylado & Dua Brouwer, karya Ai Takeshita, Ph.D., dosen Bahasa Indonesia di Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), Jepang.
Kehadiran Takeshita menjadi perhatian tersendiri. Ketertarikannya terhadap Remy Sylado justru tumbuh dari Jepang, sebuah negeri yang relatif jauh dari pusat perjalanan kreatif sang maestro. Karya-karya Remy yang belum banyak diterjemahkan dan belum beredar luas di Jepang tidak menghalangi Takeshita untuk menelusuri sosoknya secara lebih mendalam.
Bagi Takeshita, Remy Sylado bukan sekadar sastrawan. Nama pena dari Yapi Panda Abdiel Tambayong itu merepresentasikan sosok seniman multidimensi: penulis, musisi, pelukis, aktor, pekerja teater, kritikus, sekaligus intelektual dengan wawasan luas.
Keluasan pengetahuan dan lintas bidang yang dikuasainya membuat Remy pernah mendapat julukan “Ensiklopedia Berjalan”.
Remy Sylado meninggal dunia pada 2022 dalam usia 78 tahun. Namun, kepergiannya tidak serta-merta mengakhiri perjalanan cerita tentang dirinya. Sebaliknya, kenangan dari orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya menjadi kepingan penting untuk menghadirkan kembali sosoknya kepada generasi berikutnya.
Menelusuri Bandung dan Masa Muda Remy
Salah satu bagian menarik dalam penelusuran Takeshita adalah perjalanan kreatif Remy di dunia teater Bandung pada dekade 1970-an.
Bandung kala itu menjadi salah satu ruang penting tumbuhnya berbagai gagasan kebudayaan. Anak-anak muda mencari bentuk ekspresi baru, sementara dunia seni bergerak dinamis dan penuh eksperimentasi.
Di tengah suasana tersebut, Remy hadir dengan karakter yang kuat: kritis, berani, eksentrik, dan tidak mudah tunduk pada kemapanan.
Takeshita menggambarkan kehadiran Remy pada masa itu seperti kembang api—menyala terang, menarik perhatian, lalu meninggalkan cahaya yang terus membekas dalam ingatan.
Menelusuri perjalanan Remy tentu tidak cukup hanya mengandalkan arsip tertulis. Karena itu, Takeshita juga menggali kesaksian orang-orang yang pernah berada di sekitar Remy, mulai dari rekan teater, sahabat, kerabat, hingga mereka yang menyaksikan langsung perjalanan kreatifnya.
Dari berbagai kesaksian itu, muncul gambaran Remy sebagai sosok penuh warna dan memiliki banyak sisi.
Ia bisa keras dalam mempertahankan gagasan, tetapi hangat dalam pergaulan. Ia gemar mendobrak batas, tetapi sekaligus memiliki pengetahuan mendalam mengenai sejarah, bahasa, seni, dan kebudayaan.
Dua Brouwer dan Kepingan Sejarah
Penelusuran Takeshita kemudian mempertemukan perjalanan Remy dengan dua sosok Belanda yang sama-sama bernama Brouwer.
Persinggungan dengan dua Brouwer tersebut menjadi salah satu pintu masuk penting dalam buku Remy Sylado & Dua Brouwer. Dari sana, Takeshita berusaha melihat jaringan pergaulan, pertukaran gagasan, serta lingkungan sosial dan kebudayaan yang ikut mewarnai perjalanan kreatif Remy.
Buku yang diterbitkan KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) itu pada akhirnya bukan sekadar biografi mengenai Remy Sylado. Buku tersebut menjadi upaya untuk merangkai kepingan-kepingan sejarah dan ingatan yang tercecer, sekaligus menghadirkan kembali atmosfer kebudayaan yang menjadi latar perjalanan sang maestro.
Buku Remy Sylado & Dua Brouwer dapat dipesan melalui penerbit maupun diperoleh di toko-toko buku Gramedia dengan harga Rp59.000.
Remy Hadir Kembali Lewat Cerita
Suasana semakin hidup ketika acara yang dipandu Boy Borang, seniman dan budayawan yang juga merupakan sahabat sekaligus murid Remy, mulai mengalirkan berbagai cerita tentang sang maestro.
Emmy Tambayong, istri almarhum, turut membagikan kenangan tentang Remy. Dari kisah-kisah tersebut, publik diajak melihat sisi lain Remy yang mungkin tidak selalu tampak di balik panggung, buku, lukisan, maupun berbagai aktivitas keseniannya.
Sejumlah sahabat dan orang-orang yang pernah dekat dengan Remy turut hadir, antara lain Bucky Wikagoe, salah seorang murid almarhum yang kini menjabat Ketua DPRD Jawa Barat; seniman Tatang Ramdhan Bouqie, Faiz Manshur, Hawe Setiawan, Yan Hartland, Deddy Effendie, Karno Kartadibrata, Juniarso Ridwan, Muhammad Syafrin Zaini, Kyai Matdon, Etti RS, Rinrin Candraresmi, serta sejumlah sahabat lainnya.
Cerita demi cerita membuat sosok Remy seolah kembali hadir di ruang Perpustakaan Ajip Rosidi.
Bukan hanya Remy sebagai nama besar dalam sejarah kebudayaan Indonesia, tetapi Remy sebagai manusia—seorang kawan, guru, seniman, pemikir, sekaligus pribadi yang pernah berdiskusi, berdebat, bercanda, berkarya, dan meninggalkan kenangan bagi banyak orang.
Pertemuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa jejak seorang maestro tidak berhenti ketika ia meninggalkan dunia.
Karya dan gagasannya dapat menyeberangi batas negara, bahasa, dan generasi. Ketertarikan Ai Takeshita terhadap perjalanan Remy menjadi salah satu pintu untuk membuka kembali sisi-sisi kehidupan sang maestro yang masih menarik untuk ditelusuri.
Sore itu, di antara buku, percakapan, dan kenangan yang mengalir di Perpustakaan Ajip Rosidi, Remy Sylado seakan kembali hadir di Bandung.
Ia hadir melalui teater, sastra, musik, seni rupa, pemikiran, para sahabat, murid, keluarga, dan terutama melalui karya-karya yang ditinggalkannya.
Seorang maestro memang telah pergi. Namun, jejaknya tidak ikut hilang.
Sebab selama masih ada yang membaca karyanya, membicarakan gagasannya, menceritakan kisahnya, dan merawat ingatan tentang perjalanan hidupnya, Remy Sylado akan selalu menemukan jalan untuk kembali hadir.(Kin-Ka Biro LTN Jabar)
