Bukan Sekadar Ceramah, Dosen FKM Unhas Ajarkan Komunikasi dari Hati untuk Cegah Stunting di Papua
MAKASSAR, LINTASTIDARNEWS.ID – Upaya percepatan penurunan stunting di Papua terus diperkuat melalui pendekatan komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin (FKM Unhas) Muhammad Rachmat dipercaya menjadi fasilitator dalam penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan Komunikasi Antarpribadi (KAP) RCCE+ di Kabupaten Asmat dan Nabire.
Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) melalui program PASTI-Papua (Program Akselerasi Penurunan Stunting Terintegrasi–Papua) sebagai bagian dari dukungan terhadap pemerintah dalam mempercepat penurunan angka stunting di wilayah Papua.
Pelatihan pertama berlangsung di Kabupaten Asmat pada 9–11 Maret 2026. Sementara kegiatan kedua digelar di Kabupaten Nabire pada 20–22 Agustus 2026.
Dalam kedua kegiatan tersebut, Muhammad Rachmat menjadi bagian dari Forum Pelatih Komunikasi Antarpribadi (KAP) RCCE+. Ia berperan memberikan pelatihan sekaligus pendampingan kepada para peserta yang nantinya diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan di tingkat komunitas.
Menurut Muhammad Rachmat, penanganan stunting tidak cukup hanya mengandalkan penyampaian informasi melalui media seperti brosur maupun poster. Perubahan perilaku justru membutuhkan komunikasi yang membangun kepercayaan dan menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung.
«“Stunting tidak bisa dicegah hanya dengan brosur dan poster. Senjata paling kuat kita adalah percakapan. Percakapan dari hati ke hati di teras rumah, di posyandu, bahkan di gereja. Di situlah kepercayaan dibangun,” ujarnya saat memberikan pelatihan di Asmat.»
Ia menjelaskan, pendekatan KAP yang diberikan kepada para Agent of Change (AoC) menekankan tiga langkah sederhana, yakni mengenal, mendengarkan, kemudian membangun kesepakatan bersama.
«“Latihannya sederhana: kenal dulu, dengar dulu, baru sepakati bersama. Jangan langsung ceramah. Kalau orang sudah merasa didengar, giliran AoC bicara apa saja dia mau dengar,” jelasnya.»
Pendekatan tersebut menempatkan AoC bukan sebagai pihak yang menggurui masyarakat, melainkan sebagai jembatan informasi yang mampu memahami persoalan keluarga dan masyarakat sebelum menyampaikan pesan kesehatan.
«“Tugas kita bukan menggurui. Tugas kita adalah mendengar dulu, baru bicara. Kalau warga merasa didengar, mereka akan lebih terbuka untuk berubah. Itu inti dari KAP,” tambah Muhammad Rachmat.»
Pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi antarpribadi para AoC WVI. Kemampuan tersebut dinilai penting dalam menjalankan edukasi dan pendampingan kepada keluarga sasaran, khususnya dalam mendorong perubahan perilaku yang mendukung pencegahan stunting.
Para peserta berasal dari berbagai unsur masyarakat. Mereka terdiri atas kader posyandu, guru, tenaga kesehatan, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga perwakilan pers dan media.

Keberagaman peserta tersebut diharapkan menjadi kekuatan dalam memperluas jangkauan pesan kesehatan. Masing-masing unsur memiliki ruang strategis untuk menyampaikan informasi yang tepat, membangun kesadaran, serta mendampingi keluarga di lingkungan masing-masing.
Program penguatan KAP ini juga memiliki keterkaitan erat dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Kegiatan tersebut mendukung SDG 2: Tanpa Kelaparan, khususnya dalam upaya penurunan stunting dan perbaikan gizi; SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, melalui peningkatan edukasi kesehatan; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, dan pemerintah daerah.
Melalui penguatan kapasitas para Agent of Change, upaya penurunan stunting di Asmat dan Nabire diharapkan tidak berhenti pada penyampaian informasi, tetapi mampu mendorong perubahan perilaku yang tumbuh dari kesadaran masyarakat sendiri.
Pendekatan komunikasi yang empatik, persuasif, dan berbasis bukti menjadi salah satu kunci agar pesan kesehatan dapat diterima lebih baik dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Papua, pesan pencegahan stunting pun dibangun bukan sekadar melalui kata-kata, melainkan melalui percakapan, kepercayaan, dan kepedulian yang hadir di tengah masyarakat.(Ainun–Mkssr)
