592 Tusukan Jarum Tak Memadamkan Senyum Pak Mahmud di Tepi Pantura

0
IMG-20260817-WA0032

BATANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Di tengah riuh kendaraan yang melintas di jalur Pantura, kepulan asap masakan, dan aroma gulai yang menggugah selera, terselip sebuah kisah perjuangan yang mengajarkan tentang keteguhan hati.

Di Rest Area Masjid Ar-Rusyda, Beji, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Pak Mahmud tetap berdiri melayani pelanggan di Rumah Makan Padang Batang Jaya. Senyumnya tetap mengembang, sapanya tetap ramah, meski di balik semua itu tersimpan perjuangan panjang melawan penyakit yang mengubah sebagian besar kehidupannya.

Sudah lebih dari tiga tahun Pak Mahmud menjalani cuci darah. Selama itu, ia telah menjalani sekitar 296 kali tindakan hemodialisis, dengan sedikitnya 592 kali tusukan jarum.

Bagi sebagian orang, membayangkan angka tersebut saja sudah terasa berat. Namun bagi Pak Mahmud, setiap tusukan adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani dengan sabar.

Enam Bulan yang Paling Berat

Salah satu masa paling berat terjadi ketika akses pembuluh darah di tangannya belum siap digunakan untuk proses cuci darah. Selama sekitar enam bulan, tindakan medis harus dilakukan melalui akses femoral di area selangkangan.

“Rasa sakitnya sepuluh kali lipat dibanding di tangan,” kenangnya.

Masa itu menjadi ujian berat, bukan hanya bagi tubuh, tetapi juga bagi mentalnya. Rasa sakit, keterbatasan aktivitas, dan kenyataan harus menjalani pengobatan secara rutin membuatnya sempat berada di titik rapuh.

Namun dukungan dari para sahabat perlahan menguatkannya. Sebuah kalimat sederhana terus ditanamkan dalam dirinya:

“La Tahzan, Innallaha Ma’ana.”

Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.

Kalimat tersebut menjadi pegangan Pak Mahmud untuk terus melangkah. Ia menyadari bahwa menerima keadaan bukan berarti menyerah. Justru dari penerimaan itulah ia menemukan kekuatan untuk menjalani hari demi hari.

Baca Juga  Cegah Karhutla di Musim Kemarau, Polisi dan TNGMb Patroli Jalur Pendakian Merbabu via Suwanting

Ketika Kemampuan Berkurang, Tanggung Jawab Tak Boleh Hilang

Sebelum menjalani cuci darah, Pak Mahmud terbiasa bekerja selama 8 hingga 16 jam sehari mengurus rumah makan. Kini kondisi fisiknya membuat waktu produktifnya jauh berkurang.

Ia hanya mampu beraktivitas sekitar empat hingga lima jam dalam sehari.

Namun ada sesuatu yang menurutnya tidak boleh ikut berkurang: tanggung jawab.

“Kemampuan saya memang menurun drastis, tetapi tanggung jawab saya tidak serta-merta berkurang. Justru cenderung meningkat,” tuturnya.

Karena itulah, selama masih memiliki tenaga, ia memilih tetap bekerja. Rumah makan bukan sekadar tempat mencari penghasilan, tetapi juga menjadi ruang baginya untuk mempertahankan semangat hidup.

Masih Ada Sedih yang Disimpan

Di balik keteguhan itu, Pak Mahmud mengakui masih menyimpan kesedihan.

Bukan karena ia menyalahkan keadaan. Bukan pula karena menyesali penyakit yang dialaminya.

Kesedihan terbesar justru muncul karena ia merasa belum mampu memberikan yang terbaik bagi orang-orang yang dicintainya.

“Saya sangat bersedih karena sampai hari ini belum mampu memberikan yang terbaik untuk orang tua,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia juga mengaku sedih karena belum dapat membahagiakan anak dan istrinya sebagaimana yang ia harapkan.

Sebagai seorang kepala keluarga, keterbatasan fisik dan kondisi ekonomi terkadang menjadi beban pikiran tersendiri. Terlebih ketika melihat saudara, tetangga, atau orang lain membutuhkan bantuan, sementara dirinya belum mampu berbuat banyak.

Namun kesedihan itu tidak membuatnya berhenti peduli.

Berbagi Meski dalam Keterbatasan

Salah satu bentuk kepedulian yang terus dipertahankan Pak Mahmud adalah program “Harga Berbagi” di rumah makannya.

Setiap Rabu dan Sabtu, sejumlah menu disediakan dengan harga Rp13 ribu.

Bagi Pak Mahmud, berbagi tidak harus menunggu kaya. Kepedulian tidak harus menunggu hidup serba berkecukupan.

Baca Juga  Polsek Kaligondang Salurkan Bantuan Korban Kebakaran

Justru ketika berada dalam keterbatasan, ia ingin tetap memiliki ruang untuk membantu orang lain.

Program sederhana itu menjadi caranya untuk mengatakan bahwa sakit boleh membatasi gerak, tetapi tidak harus membatasi kebaikan.

Di tepi Pantura Batang, kisah Pak Mahmud menjadi pengingat bahwa kekuatan manusia tidak selalu terlihat dari seberapa lama ia mampu berdiri atau seberapa berat pekerjaan yang sanggup dilakukan.

Kadang, kekuatan justru terlihat dari kemampuan seseorang untuk tetap tersenyum setelah berkali-kali jatuh, tetap bekerja ketika tubuh mulai terbatas, dan tetap berbagi ketika dirinya sendiri sedang membutuhkan.

Ratusan tusukan jarum telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Namun tidak satu pun mampu memadamkan harapannya.

Pak Mahmud terus melangkah.

Dengan tubuh yang tak lagi sekuat dahulu, dengan waktu kerja yang semakin terbatas, dan dengan kesedihan yang sesekali masih menetes menjadi air mata, ia tetap memilih satu hal:

tidak menyerah.

Karena baginya, selama masih diberi kesempatan untuk bangun, bekerja, melayani, dan berbagi, selalu ada alasan untuk mensyukuri hidup.

Di tengah kerasnya kehidupan Pantura, Pak Mahmud menunjukkan bahwa tubuh boleh rapuh, tetapi semangat untuk bertahan dan berbuat baik tidak boleh ikut menyerah.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *