Ancaman Mengintai di Lapangan, Jurnalis Magelang Raya Dibekali Bela Diri Taktis Bersama Guntur Geni Fighting Club
KOTA MAGELANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Menjalankan tugas jurnalistik di lapangan tidak selalu berada dalam situasi yang aman dan terkendali. Berbagai kondisi tak terduga, termasuk potensi kejahatan jalanan maupun situasi yang berisiko, dapat dihadapi para jurnalis saat menjalankan tugas.
Atas dasar itu, puluhan awak media online Magelang Raya mengikuti latihan dasar bela diri taktis di Base Camp Latihan Beladiri Akbar Rido Hartono Padepokan Guntur Geni Fighting Club, Kota Magelang, Selasa malam (11/08/2026).
Latihan tersebut dipandu langsung oleh Master Taktis Nasional Eka Aris Suhartanto, atau yang akrab disapa Master Aris. Pelatih sekaligus pendiri bela diri Taktis tersebut didatangkan khusus dari Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sejak awal latihan, para peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan. Materi dimulai dari pengenalan konsep bela diri taktis, pemahaman situasi, hingga praktik teknik dasar yang dapat diterapkan dalam kondisi tertentu di lapangan.
Master Aris menjelaskan, materi yang diberikan kepada para jurnalis disesuaikan dengan kebutuhan mereka ketika menjalankan tugas. Fokus utamanya bukan menjadikan jurnalis sebagai petarung, melainkan membekali kemampuan dasar untuk melindungi diri ketika menghadapi situasi yang tidak diinginkan.
“Materinya kita sesuaikan dengan kebutuhan teman-teman jurnalis di lapangan. Intinya bagaimana mereka dapat mengamankan diri dari hal-hal yang terjadi secara tiba-tiba, termasuk ketika menghadapi kejahatan jalanan maupun situasi lain yang berpotensi membahayakan,” jelas Master Aris.
Menurutnya, bela diri taktis merupakan bentuk pengembangan kemampuan bela diri yang dapat melengkapi ilmu bela diri konvensional. Ia mulai melakukan riset bela diri taktis sejak 2010 dan kemudian mengembangkan serta memperkenalkannya secara lebih luas sejak 2014, dan mulai masuk sebagai bela diri di TNI mulai tahun 2018.
“Bela diri taktis ini saya ibaratkan seperti ekstrakurikuler atau les tambahan dari kurikulum utama, yaitu bela diri konvensional yang sudah ada. Jadi, tidak bermaksud mengubah atau mengambil pasar dari jenis bela diri yang telah ada,” paparnya.
Dalam latihan tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai bagaimana membaca situasi, menjaga kewaspadaan, serta melakukan tindakan perlindungan diri secara proporsional ketika menghadapi kondisi yang berpotensi membahayakan.
Sejumlah jurnalis terlihat serius mengikuti setiap instruksi yang diberikan. Meski demikian, tidak semua peserta dapat mengikuti seluruh gerakan secara maksimal. Faktor usia serta kondisi stamina dan kemampuan fisik menjadi pertimbangan bagi sebagian peserta untuk menyesuaikan intensitas latihan.
Suasana latihan berlangsung serius, tetapi tetap cair dan penuh keakraban. Di sela-sela praktik, peserta dan pelatih juga terlibat dalam diskusi mengenai berbagai situasi yang mungkin dihadapi jurnalis ketika berada di lapangan.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman antara pelatih dan awak media mengenai pentingnya keselamatan kerja bagi jurnalis.
Bagi para jurnalis, kemampuan menjaga keselamatan diri merupakan bagian penting dalam menjalankan tugas jurnalistik. Sebab, di balik setiap berita yang disampaikan kepada publik, terdapat kerja lapangan yang terkadang menuntut keberanian, kewaspadaan, dan kemampuan menghadapi situasi yang tidak selalu dapat diprediksi.
Latihan bela diri taktis ini pun diharapkan tidak sekadar menjadi kegiatan olahraga, tetapi juga menjadi bekal tambahan bagi awak media agar semakin siap, waspada, dan mampu menjaga keselamatan diri saat menjalankan tugas jurnalistik.(Gus)
