Dusun Puntingan, Desa Mati di Magelang yang Menyimpan Jejak Kehidupan: Dulu Dihuni Puluhan Warga, Kini Tinggal Musala dan Puing Rumah

0
images

LINTASTIDARNEWS.ID (MAGELANG) – Di balik hamparan kebun dan rimbunnya pepohonan di Desa Dlimas, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, terdapat sebuah dusun yang kini nyaris terlupakan. Namanya Dusun Puntingan, sebuah kawasan yang masih tercatat secara administratif sebagai bagian dari Desa Dlimas, tetapi sudah tidak lagi memiliki penduduk tetap.

Warga sekitar mengenalnya sebagai “dusun mati”, bukan karena bencana alam atau konflik sosial, melainkan karena seluruh penghuninya perlahan meninggalkan kampung tersebut hingga akhirnya kosong sejak akhir 2020.

Fenomena ini menjadi salah satu kisah unik di Kabupaten Magelang. Di tengah berkembangnya wilayah pedesaan, Dusun Puntingan justru kehilangan seluruh penduduknya satu per satu.

Dulu Dihuni Sekitar 7 Kepala Keluarga

Berdasarkan keterangan Pemerintah Desa Dlimas, Dusun Puntingan dulunya merupakan permukiman yang hidup dan ramai. Kepala Urusan Pelayanan Desa Dlimas, Sakdan, menyebut kawasan tersebut pernah dihuni sekitar tujuh kepala keluarga (KK) atau sekitar 10 jiwa.

Beberapa nama keluarga yang pernah tinggal di dusun tersebut antara lain Imam Mustajab, Basam, Piatun, Mudirman, Mbah Sidah, Istiono, dan Ismail. Mereka hidup dari sektor pertanian dan berkebun sebagaimana mayoritas masyarakat pedesaan di wilayah Tegalrejo.

Namun, sejak sekitar 1985, jumlah penduduk mulai berkurang. Anak-anak para penghuni memilih menetap di daerah lain, sementara sebagian warga merantau ke Sumatera atau berpindah ke Dusun Dlimas maupun Desa Dawung yang memiliki akses lebih mudah.

Penghuni Terakhir Meninggalkan Dusun pada 2020

Kepala Desa Dlimas, Saebani, menjelaskan bahwa penghuni terakhir merupakan satu keluarga yang hanya terdiri dari dua orang. Bahkan pada masa-masa terakhir, rumah tersebut hanya ditempati pada malam hari karena pada siang hari mereka bekerja di sawah.

“Penghuninya dulu kurang lebih 10 orang. Akhirnya pindah satu per satu. Sampai akhir tahun 2020 masih ada satu keluarga, lalu setelah itu tidak ada lagi yang menetap,” ujar Saebani.

Baca Juga  Mengenal Pager Gunung Rockland, Wisata Keluarga di Lembah Gunung Telomoyo

Sejak keluarga terakhir meninggalkan Puntingan, dusun tersebut resmi tidak lagi memiliki penduduk tetap.

Bukan Karena Kutukan, tetapi Perpindahan Generasi

Berbagai cerita mistis kerap dikaitkan dengan Dusun Puntingan. Namun Pemerintah Desa Dlimas menegaskan tidak memiliki bukti bahwa perpindahan warga disebabkan gangguan gaib.

Saebani mengaku tidak mengetahui penyebab pasti munculnya anggapan tersebut.

“Kalau soal diganggu makhluk halus saya tidak tahu. Yang jelas mereka pindah dalam kondisi sehat-sehat. Yang terakhir memang sudah tua dan sakit,” katanya.

Menurutnya, penyebab utama lebih dipengaruhi faktor sosial. Banyak generasi muda memilih tinggal di wilayah lain yang lebih mudah dijangkau, memiliki fasilitas lebih lengkap, dan akses transportasi yang lebih baik.

Warga Sekitar Mengaku Kawasan Sepi Saat Senja

Meski tidak lagi dihuni, kawasan Dusun Puntingan bukan sepenuhnya kosong. Pada siang hari masih ada warga yang datang untuk menggarap kebun atau melintas menuju area pemakaman.

Namun suasana berubah drastis ketika sore menjelang.

Sakdan mengungkapkan, aktivitas warga biasanya berakhir sebelum petang karena lokasi tersebut minim penerangan.

“Kalau siang masih ada orang berkebun. Tapi setelah jam lima sore sudah sepi. Tidak ada lampu penerangan, sehingga warga biasanya langsung pulang,” ujarnya.

Sementara itu, seorang warga Dusun Nglarangan, Muhtar, mengatakan sebagian masyarakat meyakini penghuni terdahulu meninggalkan kawasan karena merasa tidak kerasan.

“Ya karena tidak kerasan. Ada yang menganggap tempat itu angker,” katanya. Meski demikian, pernyataan tersebut lebih merupakan cerita yang berkembang di masyarakat dan belum pernah dibuktikan secara ilmiah maupun oleh pemerintah desa.

Kini Tinggal Musala dan Puing Bangunan

Pantauan di lokasi menunjukkan Dusun Puntingan kini hanya menyisakan beberapa bekas rumah yang sebagian besar telah roboh dan tertutup semak belukar.

Baca Juga  Sesosok Mayat Perempuan Tinggal Tulang Belulang Ditemukan di Kebun Tebu Magelang

Satu bangunan yang masih berdiri dan terus dimanfaatkan adalah musala kecil di pinggir dusun. Musala tersebut masih digunakan warga yang berkebun maupun peziarah yang hendak menuju makam di sekitar kawasan Puntingan.

Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus melewati jalan setapak berbatu dengan kondisi menurun dan dikelilingi rumpun bambu. Akses kendaraan juga relatif terbatas sehingga menjadi salah satu alasan kawasan ini kurang diminati sebagai permukiman.

Masih Tercatat sebagai Wilayah Resmi Desa Dlimas

Walaupun sudah kosong, Dusun Puntingan hingga kini belum dihapus dari administrasi pemerintahan Desa Dlimas.

Kepala Desa Saebani menegaskan wilayah tersebut tetap menjadi bagian resmi desa.

“Dusun itu sampai sekarang tetap ada data wilayahnya di Desa Dlimas, cuma tidak ada penghuninya,” ujarnya.

Sementara itu, informasi yang dimuat dalam laman resmi Pemerintah Desa Dlimas menyebut nama Puntingan telah dikenal sejak masa sebelum kemerdekaan. Berdasarkan cerita turun-temurun, kawasan tersebut diyakini berkaitan dengan lokasi penyimpanan atau “pengikat” emas yang dahulu dibawa para saudagar, sehingga muncul nama Puntingan yang berasal dari istilah Jawa nguntingi atau mengikat. Kisah tersebut merupakan bagian dari sejarah lokal yang diwariskan masyarakat setempat.

Menjadi Potensi Wisata Sejarah dan Edukasi

Meski dikenal sebagai dusun mati, Puntingan justru menyimpan nilai sejarah dan sosial yang menarik. Kawasan ini menjadi pengingat bagaimana perubahan zaman, urbanisasi, keterbatasan akses, hingga perpindahan generasi dapat mengubah wajah sebuah permukiman.

Di balik kesan sunyi yang melekat, Dusun Puntingan menyimpan cerita tentang sebuah komunitas yang pernah hidup, bertani, beribadah, dan membangun kehidupan bersama sebelum akhirnya perlahan menghilang dari peta permukiman Kabupaten Magelang. (dee)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *