Dosen UKDW Dorong Filosofi Yogyakarta Masuk Dunia Manajemen, Siapkan Seri Buku “Manajemen Hamemayu Hayuning Bawana”
YOGYAKARTA, LINTASTIDARNEWS.ID – Kearifan lokal Yogyakarta tak hanya menyimpan warisan budaya, tetapi juga berpotensi menjadi sumber gagasan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Hal itu yang tengah dikembangkan Dr. R. Andreas Ari Sukoco, SE, MM, M.Min, dosen manajemen Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), melalui seri buku “Manajemen Hamemayu Hayuning Bawana.”
Seri buku tersebut dirancang untuk mempertemukan filosofi budaya Yogyakarta dengan konsep-konsep manajemen modern. Gagasan utamanya adalah menjadikan nilai-nilai lokal bukan sekadar warisan budaya, melainkan sumber pengetahuan yang relevan untuk menjawab berbagai tantangan organisasi dan kehidupan masyarakat masa kini.
Dalam pengembangan karya tersebut, Andreas mendapat dukungan dari pakar Keistimewaan Yogyakarta Dr. Haryadi Baskoro, serta jejaring akademisi dan berbagai elemen masyarakat di DIY.
Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana pada dasarnya mengandung gagasan mengenai upaya menjaga, memperindah, dan menciptakan kehidupan dunia yang lebih baik. Nilai tersebut kemudian dikembangkan untuk dikaji dalam berbagai perspektif manajemen.
Didukung Akademisi dan Pemerintah DIY
Gagasan pengembangan seri buku tersebut mendapat perhatian dan dukungan dari sejumlah kalangan akademisi, antara lain Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, Ketua Dewan Pendidikan DIY, Prof. Dr. Sudaryono, dan Dr. Wing Wahyu Winarno.
Dukungan juga datang dari Pemerintah Daerah DIY melalui Dian Laksmi Pratiwi, MA, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, serta Kurniawan, Paniradya Pati Paniradya Kaistimewan DIY.
Selain itu, terdapat dukungan dari Widihasto Wasana Putra, Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Hedy Christiyono Nugroho, SH, MH, advokat Kantor Hukum 3H, serta Pulung WP dari HP Management.
Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperlihatkan bahwa gagasan manajemen berbasis budaya dikembangkan dengan mempertemukan perspektif akademisi, kebudayaan, pemerintahan, dunia usaha, dan masyarakat.
Kick Off di Museum Sonobudoyo
Momentum awal pengkaryaan seri buku tersebut dilakukan bertepatan dengan peringatan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan DIY.
Kick off digelar dalam kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIY di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, Senin (7/9/2026), melalui acara bertajuk “Sinau Sareng Relevansi Nilai-nilai Keistimewaan DIY di Masa Kini.”
Dalam kegiatan tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Laksmi Pratiwi bersama Kepala Museum Sonobudoyo meresmikan dimulainya pengkaryaan seri buku.
Sekitar 80 mahasiswa dan pemuda dari berbagai wilayah di DIY turut mengikuti kegiatan tersebut. Kehadiran generasi muda menjadi bagian penting dalam proses tersebut, karena nilai-nilai Keistimewaan DIY dinilai perlu terus dikontekstualisasikan agar tetap relevan dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.
Dari Filosofi Budaya Menjadi Ilmu Manajemen
Andreas mengatakan, kearifan lokal dan filosofi budaya Nusantara, khususnya Yogyakarta, memiliki banyak nilai yang dapat dikembangkan untuk memperkaya perspektif ilmu manajemen.
Menurut dia, pengembangan ilmu manajemen tidak harus selalu bertumpu pada teori yang lahir dari luar negeri. Nilai-nilai lokal juga dapat menjadi sumber pengetahuan untuk membangun pendekatan manajemen yang lebih dekat dengan karakter masyarakat Indonesia.
“Kearifan lokal dan filosofi budaya asli kita memberi banyak inspirasi bagi pengembangan ilmu manajemen,” ujar Andreas.
Karena itu, seri “Manajemen Hamemayu Hayuning Bawana” tidak diarahkan sekadar menjadi buku tentang filosofi budaya. Lebih dari itu, karya tersebut berupaya menjembatani nilai-nilai budaya dengan konsep dan praktik manajemen modern.
Delapan Bidang Manajemen Disiapkan
Selain buku induk Manajemen Hamemayu Hayuning Bawana, Andreas menyiapkan sejumlah buku turunan yang mengangkat filosofi Yogyakarta dalam berbagai bidang manajemen.
Delapan tema yang dipersiapkan meliputi:
1. Manajemen Pembangunan Berkelanjutan Berbasis Filosofi Yogyakarta
2. Manajemen SDM Berbasis Nilai Pamenthanging Gandewa, Pamenthenging Cipta
3. Manajemen Kepemimpinan Berbasis Nilai Hamangku, Hamengku, Hamengkoni
4. Manajemen Strategi Berbasis Nilai Pamenthanging Gandewa, Pamenthenging Cipta
5. Kewirausahaan Berbasis Nilai Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh
6. Koperasi Berbasis Nilai Golong Gilig
7. Manajemen Pariwisata Berbasis Budaya
8. Manajemen Pendidikan Berbasis Nilai Mangasah Mingisig Budi, Memasuh Malaning Bhumi
Ragam tema tersebut menunjukkan luasnya ruang penerapan filosofi Yogyakarta. Nilai budaya tidak hanya ditempatkan dalam konteks seni dan tradisi, tetapi juga dikaji dalam bidang kepemimpinan, sumber daya manusia, strategi organisasi, kewirausahaan, koperasi, pariwisata, pendidikan hingga pembangunan berkelanjutan.
Merawat Budaya dengan Mengembangkan Pengetahuan
Pengkaryaan seri buku ini sekaligus membuka ruang dialog antara kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Filosofi yang diwariskan dari generasi terdahulu dibaca kembali melalui perspektif akademik untuk menemukan relevansinya dengan persoalan kekinian.
Dengan pendekatan tersebut, Hamemayu Hayuning Bawana dapat ditempatkan sebagai nilai yang mendorong manusia dan organisasi untuk menciptakan kemanfaatan, keseimbangan, keberlanjutan, serta kehidupan yang lebih baik.
Gagasan tersebut juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berhenti pada upaya menjaga bentuk tradisi masa lalu. Budaya dapat terus hidup melalui reinterpretasi, pengembangan ilmu pengetahuan, dan penerapan nilai-nilainya dalam kehidupan modern.
Dari Yogyakarta, filosofi Hamemayu Hayuning Bawana kini didorong memasuki ruang yang lebih luas—dunia manajemen, pendidikan, kewirausahaan, pemerintahan, pariwisata, hingga pembangunan berkelanjutan.
Upaya tersebut menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan perspektif manajemen bercorak Indonesia, dengan kearifan Yogyakarta sebagai salah satu sumber nilai dan pemikirannya.(Gus)
Keterangan Gambar: Dr.R Andreas Ari Sukoco (kiri) dan Dr.R.Hariyadi Baskoro (kanan)
