Bukan Sekadar Slogan, Magelang Teguhkan Diri sebagai “The Real City of Tolerance” Lewat Aksi Bersih Rumah Ibadah Lintas Agama
KOTA MAGELANG, LINTASTIDARNEWS.ID — Toleransi antarumat beragama di Kota Magelang kembali ditunjukkan melalui aksi nyata. Kementerian Agama bersama Pemerintah Kota Magelang menggelar kegiatan bersih-bersih rumah ibadah yang berada di kawasan sekitar Alun-Alun Kota Magelang, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan bertajuk “Eco Theology” tersebut menjadi momentum untuk memperkuat semangat kerukunan sekaligus menunjukkan bahwa keberagaman agama bukan sekadar slogan, melainkan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Magelang.
Kegiatan melibatkan berbagai unsur, mulai dari Kementerian Agama Kota Magelang, Pemerintah Kota Magelang, Bakesbangpol, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), komunitas masyarakat, Persaudaraan Lintas Iman Magelang Raya, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), personel Polri Polres Magelang Kota, hingga komunitas pecinta kebhinnekaan.
Rangkaian kegiatan diawali apel di halaman depan Polres Magelang Kota yang dipimpin langsung Wali Kota Magelang H. Damar Prasetyono, didampingi Wakil Wali Kota Magelang dr. Sri Harso. Hadir pula Kapolres Magelang Kota, Kepala Kemenag Kota Magelang, Kepala Bakesbangpol, serta sejumlah tokoh lintas agama.
Dalam amanatnya, Wali Kota Damar menegaskan bahwa predikat Kota Magelang sebagai “The Real City of Tolerance” bukanlah sekadar jargon atau slogan.
Menurutnya, nilai toleransi telah tumbuh dan dipraktikkan masyarakat Kota Magelang sejak lama. Hal itu antara lain tercermin dari keberadaan berbagai rumah ibadah yang berdiri berdampingan di sekitar kawasan Alun-Alun Kota Magelang.
“Kota Magelang ini sudah dari dulu mengembangkan dan mempraktikkan nilai-nilai toleransi, bukan hanya berdasarkan penilaian angka atau slogan. Sebagai bukti sejarah, kita bisa melihat di seputaran Alun-Alun Kota Magelang ini berdampingan tempat ibadah dari semua agama yang ada,” ujar Damar.
Kehadiran Pura Jagat Nata, yang saat ini memasuki tahap finishing pembangunan, menurut Damar semakin memperkuat wajah keberagaman dan toleransi Kota Magelang.
“Dengan berdirinya Pura Jagat Nata, semakin menyempurnakan bukti bahwa toleransi yang kuat telah terwujud dan mengakar lama di Kota Magelang,” imbuhnya.
Bersih Rumah Ibadah, Rawat Kebersamaan

Setelah apel, peserta bergerak bersama membersihkan sejumlah rumah ibadah yang berada di sekitar kawasan Alun-Alun Kota Magelang.
Rumah ibadah yang menjadi sasaran kegiatan meliputi Masjid Agung Kauman, Gereja Bethel GBIP, Gereja Ignatius, Pura Jagat Nata, serta TITD Klenteng Liong Hok Bio.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak membedakan latar belakang agama. Para peserta dari berbagai komunitas dan unsur pemerintahan bersama-sama membersihkan rumah ibadah sebagai simbol bahwa menjaga lingkungan sekaligus merawat kerukunan merupakan tanggung jawab bersama.
Di Pura Jagat Nata, Wali Kota Damar bersama Wakil Wali Kota Sri Harso juga melakukan penanaman pohon mojo dan pohon bodhi di halaman depan pura.
Penanaman pohon tersebut memiliki makna tersendiri karena tanaman yang diberikan untuk Pura Jagat Nata merupakan sumbangan dari Persaudaraan Lintas Iman Kota Magelang, dan Kontribusi dana Pembangunan Pura dari anggota Svara Bhinneka Magelang juga turut diserahkan Koordinator SBM kepada ketua PHDI Kota Magelang, Gede Mahardika, seusai penanaman pohon.
Langkah tersebut mendapat apresiasi karena menjadi salah satu bentuk nyata toleransi antarumat beragama yang diwujudkan melalui tindakan sederhana, namun memiliki pesan kebersamaan yang kuat.
Tidak hanya membersihkan rumah ibadah, kegiatan “Eco Theology” juga membawa pesan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat menjadi titik temu seluruh umat beragama.
Eco Theology Satukan Kepedulian Lingkungan dan Kerukunan
Kegiatan “Eco Theology” merupakan bagian dari kegiatan yang digagas Kementerian Agama Republik Indonesia dan dipusatkan di kawasan Alun-Alun Kota Magelang.
Kawasan tersebut memiliki keunikan tersendiri karena berbagai rumah ibadah umat beragama berada dalam satu kawasan. Kondisi itu menjadi gambaran nyata kehidupan masyarakat yang beragam namun tetap dapat hidup berdampingan secara harmonis.
Dalam kegiatan tersebut, Kementerian Agama melalui Kantor Kemenag Kota Magelang juga menyerahkan bantuan tempat sampah berukuran besar kepada sejumlah rumah ibadah.
Bantuan tersebut diserahkan Kepala Kantor Kemenag Kota Magelang Maesaroh, S.Ag., M.H. sebagai bagian dari upaya mendorong kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan di lingkungan rumah ibadah.
Bagi Kota Magelang, kegiatan ini tidak hanya berbicara tentang membersihkan halaman dan lingkungan rumah ibadah. Lebih jauh, aksi bersama tersebut menjadi pesan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dalam menjaga lingkungan, membangun persaudaraan, dan merawat kehidupan bersama.
Kegiatan berakhir menjelang pelaksanaan salat Jumat. Seluruh rangkaian berlangsung tertib, aman, dan lancar.
Dari kawasan Alun-Alun Kota Magelang, pesan toleransi kembali ditegaskan: rumah ibadah boleh berbeda, keyakinan boleh beragam, tetapi kepedulian terhadap sesama dan lingkungan adalah milik bersama.
Kota Magelang pun kembali menunjukkan bahwa “The Real City of Tolerance” bukan hanya sebuah predikat, melainkan toleransi yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.(Gus)
