Putra Sayuti Melik Hidup di Kontrakan Sederhana, Kisah Heru Baskoro Mengundang Perhatian

0
6a549301c2767

LINTASTIDARNEWS.ID (BEKASI) – Kehidupan Heru Baskoro (84), putra Sayuti Melik—tokoh yang dikenal sebagai pengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia—berjalan jauh dari bayangan banyak orang. Di usia senja, Heru bersama istrinya, Treyzia Noviani (65), menjalani hari-hari mereka di sebuah rumah kontrakan sederhana berukuran dua petak di Jalan Cipendawa Baru, RT 002/RW 003, Kelurahan Bojongmenteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Kondisi kesehatan Heru yang terus menurun membuat aktivitas pasangan lansia tersebut sangat terbatas. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di dalam rumah karena Heru membutuhkan pendampingan dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Maria Ulfah (43), tetangga sekaligus salah satu warga yang kerap membantu pasangan tersebut, mengatakan Heru dan istrinya hampir tidak pernah keluar rumah kecuali untuk keperluan mendesak.

“Bapak sama ibunya enggak pernah keluar rumah. Paling kalau mau minta makan baru keluar. Enggak pernah pergi jauh-jauh, soalnya kan bapaknya enggak bisa tinggal,” ujar Maria saat ditemui di Rawalumbu, Senin (13/7/2026).

Menurut Maria, jika Heru harus bepergian, biasanya ia diantar oleh Asep yang disebut sebagai anak angkat Heru atau oleh dirinya sendiri.

“Kalau mau pergi, kalau enggak diantar Pak Asep, itu saya yang antar. Paling ke ATM,” katanya.

Baru Mengetahui Heru Adalah Putra Sayuti Melik

Maria mengaku baru mengetahui bahwa pria lanjut usia yang tinggal di lingkungan tempatnya tinggal merupakan putra Sayuti Melik setelah mendengar langsung cerita dari Heru dan Asep.

“Pak Asep juga cerita kalau ini anaknya dari bapak yang ngetik Proklamasi itu. Cuma ya saya percaya saja, tapi kadang suka enggak percaya, karena kan baru kenal,” tuturnya.

Meski hidup dalam keterbatasan, Maria menilai Heru tetap menunjukkan pembawaan seseorang yang pernah menikmati kehidupan mapan.

Baca Juga  Usia Boleh Senja, Semangat Gowes Komunitas GST Tetap Menyala

“Saya mikir kelihatan ini memang orang berada, maksud saya dari cara-caranya dia. Orang hebat,” ujarnya.

Sebagai pedagang makanan, Maria beberapa kali membantu memenuhi kebutuhan makan pasangan lansia tersebut. Ia mengatakan Heru bukan sosok yang banyak meminta dan memiliki selera makan yang sederhana.

“Makannya sebenarnya gampang banget, makannya juga dikit. Paling makan telur sama kecap, dia sukanya itu,” kata Maria.

Sesekali, jika sedang memasak, Maria juga membawakan lauk untuk Heru dan istrinya.

“Kalau ada masak, ya sayur apa gitu, mau. Tapi kalau ikan kurang begitu suka, paling ayam. Dia suka ayam kampung yang disemur,” tambahnya.

Maria menuturkan interaksi Heru dengan warga sekitar juga tidak terlalu intens karena sebagian besar tetangga bekerja sebagai pedagang sehingga jarang berada di rumah pada siang hari.

Kelurahan Beri Bantuan Dasar

Lurah Bojongmenteng, Kodriana, mengaku prihatin setelah mengetahui kondisi Heru dan istrinya. Ia mengatakan pihak kelurahan baru menerima informasi mengenai keberadaan pasangan tersebut pada 11 Juli 2026.

Setelah mendapat laporan, kelurahan segera berkoordinasi dengan Camat Rawalumbu serta pengurus lingkungan untuk memastikan kondisi keduanya.

Sebagai langkah awal, pemerintah kelurahan bersama Ketua RW memberikan bantuan berupa kebutuhan dasar.

“Menurut saya tinggal di kontrakan seperti ini cukup miris. Awalnya mereka hanya tidur di atas karpet biasa. Makanya kami inisiatif dengan Pak RW membelikan kipas angin karena memang cuacanya panas,” ujar Kodriana.

Selain kipas angin, pemerintah juga memberikan kasur agar pasangan lansia tersebut dapat beristirahat dengan lebih layak.

“Kami juga kasih kasur agar mereka dapat beristirahat lebih nyaman,” katanya.

Mengenai informasi bahwa Heru merupakan putra Sayuti Melik, Kodriana menyebut pihaknya telah melihat sejumlah dokumen dan foto keluarga yang memperkuat identitas tersebut.

Baca Juga  Bupati Magelang Imbau Pelaku Usaha Ikut Sukseskan Sensus Ekonomi 2026

“Terkait kebenaran bahwa keduanya benar keluarga pahlawan Proklamasi Sayuti Melik, kalau lihat dari foto-foto dan dokumen, iya,” jelas Kodriana.

Saat ini, Heru dan Treyzia telah dibawa ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi Timur agar kondisi kesehatan dan kebutuhan mereka dapat dipantau secara lebih optimal oleh pemerintah.

“Infonya dibawa ke STPL agar lebih terpantau,” ujar Kodriana.

Pernah Menjalani Kehidupan Mapan di Kanada

Kondisi Heru saat ini sangat berbeda dibandingkan kehidupannya beberapa dekade lalu. Sebelum kembali ke Indonesia, Heru dan Treyzia menetap di Kanada sejak akhir 1990-an dan menjalani kehidupan yang relatif mapan.

Menurut Treyzia, sebelum pindah ke Kanada, Heru merupakan pemegang Green Card Amerika Serikat. Namun, sekitar 1998–1999 mereka memutuskan menetap di Kanada karena sejumlah pertimbangan.

Selama tinggal di luar negeri, Heru memiliki karier yang baik. Namun, kehidupannya mulai berubah ketika mengalami gangguan penglihatan yang semakin memburuk.

Kini, Heru hanya dapat melihat menggunakan mata kirinya, sementara penglihatan mata kanan telah hilang. Kondisi tersebut diperparah oleh penyakit diabetes yang dideritanya sehingga kesehatannya terus menurun.

Pasangan itu juga sempat beberapa kali bolak-balik Kanada dan Indonesia untuk mencari pengobatan terbaik. Namun, keterbatasan ekonomi membuat perjuangan tersebut tidak mudah.

Saat ditemui wartawan, rambut Heru telah memutih seluruhnya. Meski penglihatannya terganggu dan kondisi fisiknya melemah, ia masih berusaha menjawab setiap pertanyaan yang diajukan.

Di usia senja, harapan Heru Baskoro dan Treyzia kini sederhana: dapat melanjutkan pengobatan, memperoleh pendampingan yang layak, serta menjalani sisa hidup dengan lebih tenang dan bermartabat. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *