Viral Lagu Lalaki Langit, Bupati Purwakarta Sampaikan Permintaan Maaf dan Beri Penjelasan

0
bupati-purwakarta-saepul-bahri-binzein-1744354266253_169

LINTASTIDARNEWS.ID (PURWAKARTA) – Polemik yang mengiringi lagu berbahasa Sunda Lalaki Langit, Lalanang Bejat akhirnya mendapat tanggapan langsung dari Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang lebih dikenal sebagai Om Zein. Ia menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat sekaligus meluruskan anggapan bahwa lagu tersebut dibuat untuk merendahkan kaum perempuan.

Menurut Om Zein, lagu yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial itu bukan ditujukan sebagai bentuk sindiran ataupun pelecehan terhadap perempuan. Ia menegaskan, karya tersebut merupakan refleksi atas perjalanan hidup dan pengakuan terhadap kesalahan dirinya di masa lalu.

“Lagu ini adalah bentuk introspeksi pribadi, bukan untuk menyudutkan atau merendahkan siapa pun,” ujar Om Zein dalam klarifikasinya.

Ia menjelaskan, lirik lagu tersebut berawal dari sebuah puisi yang ditulis pada 2020. Puisi itu kemudian diaransemen menjadi lagu sebagai media untuk mengingatkan dirinya agar terus memperbaiki sikap dan tidak mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan.

Namun setelah lagu tersebut menuai beragam respons dari masyarakat, Om Zein mengaku memahami adanya pihak-pihak yang memiliki penafsiran berbeda terhadap isi liriknya. Karena itu, ia menyampaikan permohonan maaf kepada siapa saja yang merasa tersinggung atau tidak nyaman.

“Saya memohon maaf apabila karya ini menimbulkan persepsi yang berbeda dan melukai perasaan sebagian masyarakat. Sama sekali tidak ada niat untuk merendahkan perempuan maupun kelompok tertentu,” katanya.

Sebagai bentuk tanggung jawab, Om Zein juga memutuskan menarik lagu tersebut dari seluruh akun media sosial miliknya. Langkah itu dilakukan untuk meredam polemik sekaligus menghormati berbagai masukan yang datang dari masyarakat.

Sebelumnya, lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat menjadi sorotan publik setelah viral di berbagai platform digital. Sejumlah pihak, mulai dari aktivis, pegiat hak perempuan, anggota DPR, hingga lembaga bantuan hukum, mengkritik sebagian lirik lagu yang dinilai berpotensi menimbulkan stigma dan bias gender.

Baca Juga  Protes Ancaman PHK, Ribuan PNS Mogok Besar - Besaran

Di sisi lain, ada pula pihak yang memandang lagu tersebut sebagai bentuk ekspresi seni yang lahir dari pengalaman pribadi penciptanya. Perbedaan sudut pandang itu kemudian memicu perdebatan luas di ruang publik.

Om Zein berharap polemik tersebut dapat menjadi pembelajaran bersama, baik bagi dirinya maupun masyarakat, mengenai pentingnya memilih diksi yang tepat dalam sebuah karya, terlebih ketika disampaikan oleh figur publik yang memiliki tanggung jawab moral kepada masyarakat.(*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *