Rupiah Kembali Tertekan, Hampir Menyentuh Rp18.000 per Dolar AS di Awal Juli
LINTASTIDARNEWS.ID (JAKARTA) – Pergerakan nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan. Memasuki perdagangan Rabu (1/7/2026), mata uang Garuda mengalami pelemahan hingga nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sebuah posisi yang selama ini dianggap sebagai batas penting oleh pelaku pasar.
Berdasarkan data perdagangan valuta asing, rupiah dibuka melemah ke kisaran Rp17.965 per dolar AS. Kondisi tersebut memperpanjang tren depresiasi yang telah berlangsung dalam beberapa pekan terakhir, sekaligus mencerminkan masih kuatnya tekanan dari sentimen global.
Analis mata uang Lukman Leong dari Doo Financial Futures menilai pelemahan rupiah tidak lepas dari menguatnya mata uang dolar AS di pasar internasional. Menurutnya, optimisme investor terhadap dolar meningkat setelah pasar kembali memperkirakan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama dari ekspektasi sebelumnya.
“Penguatan dolar AS masih menjadi faktor dominan yang membebani pergerakan rupiah. Pasar kembali berspekulasi bahwa The Fed belum akan terburu-buru memangkas suku bunga,” ujar Lukman.
Selain dipengaruhi faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah juga datang dari pergerakan modal asing yang masih cenderung keluar dari pasar keuangan domestik. Sikap investor yang lebih memilih aset berdenominasi dolar membuat permintaan terhadap mata uang Negeri Paman Sam meningkat, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi semakin terbatas.
Fenomena tersebut tidak hanya dialami Indonesia. Sejumlah mata uang di kawasan Asia juga bergerak di zona merah terhadap dolar AS seiring meningkatnya kehati-hatian investor global menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Meski demikian, para analis menilai pelemahan rupiah saat ini masih lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dibandingkan kondisi fundamental ekonomi Indonesia. Sejumlah indikator domestik, mulai dari inflasi yang relatif terkendali hingga pertumbuhan ekonomi yang masih positif, dinilai masih mampu menjadi penyangga di tengah gejolak pasar keuangan global.
Sementara itu, pemerintah memastikan akan terus menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui koordinasi bersama Bank Indonesia dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Bank Indonesia juga diperkirakan akan tetap mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar untuk meredam volatilitas yang terjadi di pasar.
Ke depan, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk perkembangan inflasi dan pasar tenaga kerja, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan The Fed.
Apabila dolar AS masih mempertahankan tren penguatannya, bukan tidak mungkin tekanan terhadap rupiah akan berlanjut dalam jangka pendek.
Meski demikian, para ekonom mengingatkan bahwa pergerakan nilai tukar bersifat dinamis. Perubahan sentimen global, masuknya kembali aliran modal asing, maupun kebijakan stabilisasi dari Bank Indonesia dapat menjadi faktor yang mengubah arah pergerakan rupiah dalam waktu relatif singkat. (*)
