Api Misterius Gegerkan Sleman, Tim UGM dan BPBD Ungkap Dugaan Penyebab dari Gas Metana
LINTASTIDARNEWS.ID (Sleman, DIY) – Fenomena munculnya titik-titik api secara tiba-tiba di rumah warga di Padukuhan Mriyan X, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi perhatian publik dalam beberapa pekan terakhir. Kejadian yang berlangsung sejak akhir Mei 2026 itu telah memicu puluhan hingga lebih dari seratus kemunculan api yang membakar sejumlah barang di dalam rumah warga.
Rumah milik keluarga Agus Yani dan Mutfiana menjadi lokasi utama kejadian tersebut. Api dilaporkan muncul secara acak pada benda-benda yang mudah terbakar seperti pakaian, plastik, hingga perabot rumah tangga.
Pemilik rumah, Mutfiana, mengaku peristiwa itu pertama kali terjadi pada 23 Mei 2026 dan terus berulang hingga membuat keluarganya harus mengungsi sementara.
“Waktu itu saya sedang menyetrika. Tiba-tiba seperti ada firasat untuk keluar kamar. Saat melihat ke belakang, ternyata sudah ada api yang membesar,” ujar Mutfiana.
Fenomena tersebut sempat memunculkan berbagai spekulasi di masyarakat, termasuk dugaan unsur mistis. Bahkan, sejumlah orang yang mengaku memiliki kemampuan supranatural berdatangan ke lokasi.
Namun, tim gabungan dari BPBD Sleman, kepolisian, PLN, hingga Dinas PUP-ESDM DIY memastikan penyelidikan dilakukan secara ilmiah. Tim Gegana Brimob Polda DIY bersama para peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta kemudian diterjunkan untuk melakukan observasi lapangan.
Fakultas Teknik UGM membentuk tim multidisiplin guna mengkaji penyebab munculnya api tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan awal, para peneliti menduga fenomena tersebut berkaitan dengan keberadaan gas metana yang terbentuk dari lingkungan bekas rawa yang kaya material organik.
Ketua tim peneliti dari UGM, Alva Edy Tontowi, menjelaskan bahwa api tidak dipicu oleh korsleting listrik.
“Dalam kondisi tertentu, api memang dapat muncul secara spontan tanpa adanya aliran listrik sebagai pemicu. Dugaan sementara mengarah pada keberadaan gas metana yang berasal dari air limbah,” ujarnya.
Selain memeriksa instalasi listrik, tim juga melakukan pengujian terhadap air limbah, air sumur, serta medan elektromagnetik di sekitar rumah warga.
Sejumlah temuan lapangan menunjukkan adanya indikasi sumber gas metana di bawah permukaan tanah dan saluran air di sekitar kawasan tersebut. Dugaan itu diperkuat dengan karakteristik wilayah yang dulunya merupakan area rawa dengan tingkat kelembapan tinggi.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sleman, Makwan, menyatakan pihaknya terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan berbagai instansi untuk menjamin keselamatan warga.
BPBD juga memasang kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi guna membantu proses penelitian sekaligus memonitor kemungkinan munculnya titik api baru.
“Yang paling utama adalah menjaga keamanan warga. Kami terus berkoordinasi dengan para ahli dan instansi terkait untuk mengetahui penyebab pasti fenomena ini,” kata Makwan.
Hingga pertengahan Juni 2026, intensitas kemunculan api dilaporkan mulai berkurang. Namun, tim gabungan masih melakukan pengawasan dan penelitian lanjutan guna memastikan sumber pasti dari fenomena yang sempat menghebohkan masyarakat tersebut.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi dan tetap mengedepankan penjelasan ilmiah dalam menyikapi kejadian tersebut. (*)
