Dinkes Surabaya Gandeng Ahli dari China dan Korea untuk Perkuat Deteksi TBC, Gunakan Teknologi Berbasis Air Liur

0
1000489683

LINTASTIDARNEWS.ID (Surabaya) – Pemerintah Kota Surabaya terus memperkuat upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui deteksi dini dan pengobatan yang lebih cepat. Salah satu langkah terbaru yang dilakukan adalah menggandeng tim ahli dari China dan Korea Selatan untuk mendukung pengembangan teknologi pemeriksaan TBC berbasis sampel air liur.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, mengatakan bahwa kegiatan penelusuran kontak (tracing) dan skrining rutin dilakukan setiap pekan di lima wilayah prioritas. Langkah tersebut ditujukan untuk menemukan kasus lebih awal sekaligus memutus rantai penularan penyakit.

Berdasarkan data Dinkes Surabaya periode Januari hingga Mei 2026, sebanyak 44.088 warga yang diduga terinfeksi TBC telah menjalani pemeriksaan. Jumlah tersebut telah mencapai 71,54 persen dari target pemeriksaan sebanyak 61.624 orang. Sementara itu, kegiatan skrining telah menjangkau 644.201 penduduk atau sekitar 45,78 persen dari target yang ditetapkan.

Dari estimasi 11.412 kasus TBC yang diperkirakan terjadi sepanjang tahun ini, sebanyak 4.191 kasus telah berhasil ditemukan. Angka tersebut terdiri dari 4.078 kasus TBC sensitif obat dan 113 kasus TBC resistan obat. Saat ini, 4.166 pasien tengah menjalani pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan di Surabaya.

Menurut dr. Billy, salah satu kegiatan skrining dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Sawah Pulo, Kecamatan Semampir, dengan melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, dokter spesialis paru, serta dokter residen.

Menariknya, pemeriksaan TBC kini mulai memanfaatkan teknologi baru yang memungkinkan deteksi penyakit melalui sampel saliva atau air liur. Metode tersebut dinilai lebih praktis dibandingkan pemeriksaan konvensional yang mengandalkan dahak, yang kerap sulit diperoleh dari pasien.

“Kalau selama ini harus menggunakan dahak, sekarang cukup dengan saliva atau air liur untuk membantu mendeteksi TBC,” ujar dr. Billy.

Baca Juga  Fitri Ngangsu BBM Pertalite Pakai Thunder di SPBU Dan Dijual Kembali ke Warung Eceran

Ia menambahkan bahwa pengembangan metode pemeriksaan tersebut mendapat dukungan dari para ahli internasional asal China dan Korea Selatan.

“Kegiatan itu didukung oleh tim ahli juga dari China dan Korea,” katanya.
Selain menemukan kasus baru, Dinkes Surabaya juga telah melakukan 2.461 investigasi kontak dan memberikan terapi pencegahan kepada 2.729 orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC. Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah penularan lebih luas.

Setelah pasien dinyatakan positif, pengobatan langsung diberikan melalui puskesmas. Dinkes juga melibatkan Kader Surabaya Hebat (KSH), petugas puskesmas, serta tenaga kesehatan lainnya untuk memantau kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat selama masa terapi yang berlangsung cukup panjang.

Hingga Mei 2026, tingkat keberhasilan pengobatan TBC sensitif obat di Surabaya tercatat mencapai 89,36 persen, sedangkan angka kematian pasien selama menjalani terapi berada di angka 1,80 persen.

Melalui kolaborasi dengan tenaga medis, akademisi, serta dukungan ahli dari luar negeri, Pemerintah Kota Surabaya berharap target eliminasi TBC nasional pada 2030 sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 dapat tercapai. (*)

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *